ABSTRAK

Dunia pendidikan dan pelatihan di Indonesia sedang dan harus berubah. Kita tidak bisa hanya mengandalkan praktik pendidikan dan pelatihan seperti beberapa tahun lalu. Perubahan di dunia pendidikan dan pelatihan lebih dituntut dengan meningkatnya standar produktivitas yang ditetapkan, baik oleh pemerintah (Badan Akreditasi Nasional) maupun swasta internasional (ISO). Oleh karena itu, dunia pendidikan dan pelatihan memerlukan cara baru menjawab tantangan tersebut. Mereka membutuhkan teknologi yang dapat menyediakan pendidikan dan pelatihan yang cepat, metode lebih efektif, dan persiapan lebih singkat. E-larning menjawab semua tantangan tersebut. Seiring dengan berkembangnya internet di dunia, semua aktivitas di bawa ke internet. Akibatnya, konektivitas semua individu selalu terjaga, melampaui batas kota dan negara.

Pembelajaran efektif ialah suatu pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Proses pembelajarannya bercirikan: aktif, kovert, kompleks dan dipengaruhi oleh perbedaanindividusiswa.

B.Pendahuluan

Dunia pendidikan dan pelatihan merambah dalam keunggulan internet. Apabila anda sedang surfing di intermet, pasti mudah menemukan situs-situs yang menawarkan layanan edukasi secara online Penggunaan e-learning benar-benar fenomena yang luar biasa, sampai-sampai John Chambers, CEO Cisco Systems, mengatakan bahwa e-learning adalah ‘’the next killerapp’’atau aplikasibesar berikutnya.

Perusahaan-perusahaan di dunia mulai menggunakan teknologi e-learning untuk melatih karyawan. Survei yang diadakan ASTD (American Society for Training & Development) tahun 2004 mengungkapkan bahwa hampir 60 % perusahaan di Amerika telah atau mulai mengimplementasikan e-learing di perusahaan mereka. Betapa pesatnya kemajuan e-learning, disbanding dengan umurnya yang masih seumur jagung. E-learning pun telah melanda dunia akademis. Di AS, e-learning telah digunakan di hampir 90% universitas yang memiliki lebih dari 10.000 siswa. Gerhard Casper, presiden Stanford University di AS, menyatakan yakin dalam waktu sepuluh tahun ke depan, pendidikan akan berganti dari pendidikan di kelas ke pendidikan online. Di Indonesia, e-learning mulai diterapkan beberapa perusahaan dan akademis.

Meningkatnya penggunaan internet sekitar 100% setiap tahun memberikan andil cukup besar dalam kemajuan penggunaan e-learning. Teknologi internet yang digunakan telah menunjukkan kemajuan di beberapa kota besar, di mana telah tersedia layanan internet broadband yang memungkinkan transfer data secara singkat. Adanya fasilitas transfer data yang cepat membuat pengguna e-learning di Indonesia dapat men-download pelajaran dan server dalam waktu singkat sehingga kenyamanan pelajar meningkat. Hal tersebut disadari oleh ilmu komputer.com yang telah berdiri sejak tahun 2003. Ilmu komputer.com dibuka untuk menyediakan materi dan kuliah gratis berbahasa Indonesia di bidang ilmu komputer dan teknologi informasi bagi siapa pun yang ingin men-download. Saat ini, ilmu komputer.com telah tumbuh menjadi sebuah komunitas terbuka e-learning gratis ilmu komputer Indonesia.

Perusahaan-perusahaan lokal mulai mengadopsi e-learning untuk kegiatan pelatihan karyawan. Bank Mandiri telah meluncurkan Learning Management System (LMS) dan pelajaran-pelajaran e-learning untuk melatih sekitar 18 ribu orang karyawannya yang tersebar di hampir 700 kantor cabang, PT SAP Indonesia, PT Telekomunikasi Indonesia dan IBM Indonesia pun menerapkan e-learning untuk mengembangkan sumber daya manusia.

Beberapa perusahaan e-learning dunia mulai melirik Indonesia untuk bisnisnya. SkillCoft, misalnya telah menunjuk perusahaan representatif di Indonesia untuk menjual produknya. Hal sama dilakukan Hewlett Packard, IBM, Oracle dan Cisco. Penggunaan e-learning telah merambah dunia akademis Indonesia. Universitas Terbuka telah menyediakan beberapa tutorial secara online. Institut Teknologi Bandung (ITB) pun telah menawarkan sejumlah pelajaran online learning melalui Open Learning System (OLSys). Universitas Petra, Universitas Gajah Mada, Universitas Bina Nusantara, dan Universitas Pelita Harapan telah memberikan pula beberapa pelajaran dalam bentuk e-learning. Lebih lanjut, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) sudah mengembangkan dan menyiapkan e-learning dengan membangun wireless area network (WAN) di sembilan kota. Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (Pustekkom) Depdiknas mengeluarkan beberapa mata pelajaran yang berbentuk multimedia, yang ditujukan terutama untuk pelajaran SMA. Pustekkom telah meluncurkan e-dukasi.net yang bermaksud memberikan materi pelajaran bagi siswa dan guru secara gratis. Situs yang bertujuan untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan melalui penyediaan sumber belajar yang dapat diakses dari manapun, kapanpun, dan oleh siapapun merupakan langkah nyata Departemen Pendidikan Nasional mengikutsertakan e-learning dalam proses belajar mengajar di Indonesia.

Pembelajaran efektif merupakan jantungnya lembaga institusi pendidikan efektif (sekolah maupun perguruan tinggi). Pembelajaran efektif adalah suatu pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa/siswa/peserta didik untuk belajar keterampilan spesifik, ilmu pengetahuan, dan sikap serta yang membuat siswa senang (Dick & Reiser, 1989). Dunne & Wragg (1996) menjelaskan bahwa pembelajaran efektif memudahkan murid belajar sesuatu yang bermanfaat, seperti fakta, keterampilan, nilai, konsep, cara hidup serasi dengan sesama, atau sesuatu hasil belajar yang diinginkan. Selanjutnya, Dunne &Wragg (1996) menjelaskan bahwa pengajar yang efektif mempunyai harapan yang jelas mengenai apa yang harus dicapai anak-anak dan menyampaikan harapan itu kepada mereka. Satu cara menyampaikannya adalah dengan mendiskusikannya dan menjelaskannya dengan anak-anak sebelum, selama dan sesudah pengajaran dilakukan. Istilah-istilah analisis yang digunakan di sini akan menyangkut kejelasan pokok bahasan mana yang segera dapat diingat, jenis keterampilan apa yang seharusnya dikuasai, dan konsep mana yang terpenting untuk dipahami.

Dalam proses pembelajaran, seorang pengajar (dosen) dituntut untuk dapat membangkitkan motivasi belajar pada diri peserta didik. Budiono (1998) menjelaskan bahwa salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik ialah bahwa seorang pengajar dapat menggunakan model pembelajaran yang inovatif sehingga peserta didik menikmati kegiatan pembelajaran. Untuk mendorong dan memudahkan mahasiswa dalam belajar, John M. Keller (dalam Driscoll, 1994; Reigeluth, 1987; Gagne, 1989) menjelaskan bahwa diperlukan penyediaan 4 (empat) kondisi motivasional, yaitu Attention, Relevance, Confidence, dan Satisfaction (ARCS) model. Di samping penggunaan model ARCS sebagai upaya memudahkan mahasiswa untuk belajar, penggunaan strategi-strategi kognitif yang terdiri dari framing, chunking, concept mapping, the advance organizer, metaphor, rehearsal, imagery, and mnemonics (West, Farmer, & Wolff, 1991) merupakan cara mengefektifkan pembelajaran. Mozes R. Toelihere & Yuhara Sukra (1986) menjelaskan bahwa kapur tulis dan papan tulis merupakan perangkat pembantu mengajar yang sangat efektif dan tidak boleh dianggap remeh karena terdapat di mana-mana. Daftar rancangan pengajaran istilah secara tepat dan ilustrasi, dapat dituangkan di papan tulis secara lancar selama kuliah atau diskusi berlangsung. Transparansi atau slide, film, dan proyeksi overhead sering juga digunakan untuk mengilustrasikan dan menghidupkan kuliah. Terlihat di sini bahwa setiap tapan pengajar/dosen perlu mengadakan keputusan-keputusan, misalnya tentang model apa yang harus dipakai untuk mengajar pelajaran tertentu; alat apakah yang diperlukan untuk membantu mahasiswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan; perlukah mahasiswa membuat catatan, melakukan praktikum, menyusun makalah, atau cukup dengan hanya mendengar ceramah dosen saja; bagian manakah yang perlu penekanan lebih banyak ataukah semua bagian sama perlunya.

Setiap keputusan yang diambil oleh dosen selalu mencakup pemberian nilai atau pertimbangan serta pemilihan antara beberapa alternatif yang jarang sekali bersifat benar atau salah, tetapi lebih banyak bersifat ‘’manakah yang akan memberi hasil yang lebih baik?’’. Dalam proses belajar mengajar, dosen selalu dihadapkan kepada pemilihan apa yang harus dilakukan, siapa yang melakukan, bagaimanakah cara melakukannya, dan yang lebih penting, mengapa hal tersebut perlu dilakukan.

Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat, dosen perlu mempunyai landasan pengetahuan yang memadai tentang mahasiswa dan karakteristiknya, teori dan prinsip belajar, perancangan dan pengembangan sistem instruksional. Selain itu pemilihan model mengajar yang efektif, penilaian hasil belajar mahasiswa serta masalah-masalah yang mungkin akan dihadapi di dalam pengelolaan proses belajar mengajar dan cara penanggulangannya perlu juga diketahui. Bekal ini sangat penting artinya bagi dosen karena akan memberikan landasan ilmiah tentang langkah-langkah dan keputusan yang diambilnya dalam usaha membantu mahasiswa mengembangkan diri, mengarahkan dan memperlancar proses belajar mahasiswa, mendeteksi adanya masalah pendidikan, serta mencari alternatif pemecahannya. Pemikiran persiapan yang sistematik dan pengaturan penyajian yang baik menunjukkan karakteristik mengajar yang baik dan seharusnya mengacu pada teori dan hasil penelitian yang ilmiah. Jadi sebagai seorang profesional, semua tindakan dosen tergantung pada ilmu mengajar dan pengetahuan tentang anak didik yang dikuasainya, bukan pada intuisi atau logikanya saja. Dosen berusaha memahami dan mendiagnosis situasi kelas, kemudian bertindak selektif serta kreatif untuk memperbaiki kondisi sehingga dapat menciptakan situasi belajar dan mengajar yang baik.
C. Pembahasan

1. Peran E-Learning

Di dunia pendidikan dan pelatihan sekarang, banyak sekali praktik yang disebut e-learning. Sampai saat ini, pemakaian kata e-learning sering digunakan semua kegiatan pendidikan yang menggunakan media komputer dan atau internet. Banyak pula penggunaan teknologi yang memiliki arti hampir sama dengan e-learning. Web based learning, online learning, computer-based training/learning, distance learning, computer-aided instruction, dan lain sebagainya, adalah terminologi yang sering digunakan untuk menggantikan e-learning. Terminologi e-learning sendiri dapat mengacu pada semua kegiatan pelatihan yang menggunakan media elektronik atau teknologi informasi. Karena ada bermacam penggunaan e-learning saat ini, maka ada pembagian atau pembedaan e-learning. Menurut Effendi dan Hartono Zhuang (2005:7-8) pada dasarnya, e-learning mempunyai dua tipe, yaitu synchronous and asynchronous.

Synchronous berarti ‘’pada waktu yang sama’’. Jadi, synchronous training adalah tipe pelatihan, di mana proses pembelajaran terjadi pada saat yang sama ketika pengajar sedang mengajar dan murid sedang belajar. Hal tersebut memungkinkannya interaksi langsung antara guru dan murid, baik melalui internet maupun intranet. Pelatihan e-learning synchronous lebih banyak digunakan seminar atau konferensi yang pesertanya berasal dari beberapa Negara. Penggunaan tersebut sering pula dinamakan web conference atau webinar (web seminar) dan sering digunakan kelas atau kuliah universitas online. Jadi synchronous training sifatnya mirip pelatihan di ruang kelas. Namun kelasnya bersifat maya (virtual) dan peserta tersebar di seluruh dunia dan berhubung melalui internet. Oleh karena itu, synchronous training sering pula dinamakan virtual classroom. Asynchronous berarti ‘’tidak pada waktu yang bersamaan’’. Jadi, seseorang dapat mengambil pelatihan pada waktu yang berbeda dengan pengajar memberikan pelatihan. Pelatihan ini lebih populer di dunia e-learning karena memberikan keuntungan lebih bagi peserta pelatihan karena dapat mengakses pelatihan kapanpun dan dimanapun. Pelatihan berupa paket pelajaran yang dapat dijalankan di komputer manapun dan tidak melibatkan interaksi dengan pengajar atau pelajar lain. Oleh karena itu, pelajar dapat memulai pelajaran dan menyelesaikannya setiap saat. Paket pelajaran berbentuk bacaan dengan animasi, simulasi, permainan edukatif, maupun latihan atau tes dengan jawabannya. Akan tetapi, ada pelatihan asynchronous training yang terpimpin, di mana pengajar memberikan materi pelajaran lewat internet dan peserta pelatihan mengakses materi pada waktu yang berlainan. Pengajar dapat pula memberikan tugas atau latihan dan peserta mengumpulkan tugas lewat email. Peserta dapat berdiskusi atau berkomentar dan bertanya melalui bulletin board.

E-learning umumnya selalu diidentifikasikan dengan penggunaan internet untuk menyampaikan pelatihan. Namun, saat ini, media penyampaian e-learning sangat beragam. Penyampaian pelajaran lewat internet dilakukan oleh perusahaan-perusahaan e-learning dan universitas online seperti Universitas Global 21 atau University 24/7. hal ini karena mereka ingin memperoleh jumlah pelajar yang besar dan berasal dari berbagai wilayah. Oleh karena itu, internet, yang memiliki jangkauan luas, menjadi pilihan media yang tepat. Karena faktor keamanan data dan biaya koneksi, perusahaan umumnya menggunakan intranet yang menghubungkan komputer-komputer di kantor-kantor cabang. Perusahaan pun menggunakan internet untuk memberikan akses dari rumah bagi karyawan. Sekolah-sekolah yang memiliki laboratorium komputer menggunakan local area network (LAN) untuk menghubungkan komputer sebagai media e-learning. Apabila ada situasi, di mana network komputer tidak tersedia, e-learning dapat diberikan dalam media CDROM. Jadi, peserta dapat membawa CDROM dan memainkannya di komputer rumah maupun komputer di meja kantor.

Keuntungan penggunaan e-learning dijelaskan oleh Effendi dan Hartono Jhuang (2005:9) antara lain: Mengurangi biaya pelatihan, fleksibilitas waktu, fleksibilitas tempat, fleksibilitas kecepatan pembelajaran, standarisasi pengajaran, efektivitas pengajaran, kecepatan distribusi, ketersediaan on-Demand dan otomatisasi proses administrasi. Sedangkan lebih lanjut keterbatasannya menurut Effendi dan Hartono (2005:15) antara lain: menuntut budaya self learning, investasi, teknologi, infrastruktur dan materi.

Sedangkan strategi e-learning melibatkan empat tahap: analisa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Analisa dapat dilakukan dengan analisa SWOT (Strengths-Weakness-Opportunities-Threats) yakni analisa berdasarkan kekuatan, kelemahan, peluang atau ancaman). Faktor-faktor yang harus dianalisa antara lain kebutuhan organisasi, kebutuhan pelatihan, budaya organisasi dan infrastruktur. Perencanaan merupakan sesuatu yang harus dilakukan dalam strategi apapun. Hasil analisa tahap sebelumnya menjadi dasar proses menyusun rencana penerapan e-learning. Perencanaan yang dibuat meliputi banyak aspek strategi. Aspek perencanaan utama yang harus kita tinjau adalah network, learning management system, materi dan marketing. Pelaksanaan, tim yang terkait mulai melaksanakan rencana kerja yang telah disepakati pada tahap perencanaan. Pertama-tama, kita harus memilih anggota tim yang dibutuhkan untuk melaksanakan rencana penerapan program e-learning. Anggota tim berasal dari berbagai departemen dan latar belakang yang berbeda. Tahap ini memerlukan keahlian project management yang andal untuk memastikan koordinasi dan eksekusi pekerjaan sesuai rencana dan tidak menyimpang dari tujuan dan strategi. Keahlian kepemimpinan (leadership skill) yang tinggi sangat diperlukan agar tim dapat menyatu dan bekerja sama dengan baik. Tahap pelaksanaan meliputi: pre-launch, launch dan post-launch. Evaluasi dilakukan terhadap hasil pembelajaran peserta pelatihan yang berhubungan dengan pemakaian materi. Penilaian akan dilakukan secara bertingkat sebagai berikut: (1) mengukur kepuasaan peserta pelatihan dari segi interaksi dan tampilan program e-learning; (2) mengukur hasil pembelajaran, apakah peserta pelatihan dapat menyerap materi; (3) mengukur apakah materi pembelajaran benar-benar digunakan oleh peserta pelatihan ketika melakukan kegiatan sehari-hari sehingga kinerja meningkat; dan (4) mengukur berapa banyak hasil yang didapat oleh organisasi dengan adanya pelatihan e-learning sehingga kinerja sumber daya manusia meningkat. Hasil tersebut dapat dibandingkan dengan jumlah investasi yang ditanam agar mendapatkan hasil ROI (return on investment) dari penerapan e-learning.

 

2. Pembelajaran Efektif

Pembelajaran merupakan upaya sadar dan disengaja oleh dosen/pengajar untuk membuat mahasiswa/siswa belajar melalui pengaktifan berbagai unsur dinamis dalam proses belajar siswa. Beberapa ciri-ciri pembelajaran dikemukakan oleh Gagne (1975), sebagai berikut: Mengaktifkan motivasi, memberikan tujuan belajar, mengarahkan perhatian, merangsang ingatan, menyediakan bimbingan belajar, meningkatkan retensi, melancarkan transfer belajar dan memperlihatkan penampilan dan memberikan umpan balik. Lebih lanjut Oemar Hamalik (1999) menjelaskan tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran sebagai berikut: (1) Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur, yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran dalam suatu rencana khusus; (2) salingketergantungan (interdependence) di antara unsur-unsur sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran; (3) tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Pembelajaran efektif menurut Sutikno (2004:88) ialah suatu pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang dinginkan.

Menurut Prof. Dr. Nasution (1989) menyebutkan ciri-ciri pengajar yang efektif antara lain: (1) mulai dan mengakhiri pelajaran tepat pada waktunya; (2) berada terus di dalam kelas dan mengunakan sebagian besar dari jam pelajaran untuk mengajar dan membimbing pelajaran; (3) memberi intisari pelajaran lampau pada permulaan pelajaran baru; (4) mengemukakan tujuan pelajaran lampau pada permulaan pelajaran; (5) menyajikan pelajaran baru langkah demi langkah dan memberikan latihan pada akhir setiap pelajaran; (6) memberikan latihan praktis yang mengaktifkan semua siswa; (7) memberikan bantuan siswa, khususnya pada permulaan pelajaran; (8) mengajukan banyak pertanyaan dan berusaha memperoleh jawaban dari semua atau sebanyak-banyaknya siswa untuk mengetahui pemahaman setiap siswa; (9) bersedia mengajar kembali apa yang belum dipahami siswa; (10) membantu kemajuan siswa, memberikan bahan/materi yang sistematis dalam memperbaiki setiap kesalahan; (11) mengadakan review atau pengulangan tiap minggu secara teratur, dan (12) mengadakan evaluasi berdasarkan tujuan yang telah dirumuskan. Banyak upaya yang dapat dilakukan oleh dosen dalam meningkatkan keefektifan pembelajaran. Pendekatan sistem dalam perancangan pembelajaran model Dick & Carey (1990) terdiri dari sepuluh langkah, yakni identifikasi tujuan pembelajaran dengan analisis kebutuhan, analisis pembelajaran, identifikasi kemampuan awal dan karakteristik peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran khusus, pengembangan tes acuan patokan, pengembangan strategi pembelajaran, pengembangan dan pemilihan materi pembelajaran, perancangan dan penyelenggaraan evaluasi formatif, revisi, serta rancangan dan penyelenggaraan evaluasi sumatif. Setiap penyelenggaraan pembelajaran perlu menguasai pelaksanaan langkah-langkah pendekatan sistem perancangan pembelajaran agar pembelajaran yang dilaksanakan bisa efektif. Heinich, Molenda, Russel dan Smaldino (1996) menyebutnya penggunaan model ASSURE (Analyse learners, State objectives, Select methods, media, and materials, Utilize media and materials, Require learner participation, dan Evaluate and revise). Moore (1999) menjelaskan 6 langkah yang berkesinambungan dalam suatu model pengajaran yang efektif, yaitu (1) memahami situasi dalam belajar, (2) merencanakan pelajaran, (3) merencanakan tugas-tugas, (4) melaksanakan kegiatan belajar, (5) pengajar menentukan ketercapaian maksud, dan tugas(6) menindak lanjuti. Langkah pertama meliputi pemilihan kurikulum yang akan diajarkan. Proses pemilihan ini didasarkan pada kebutuhan siswa, masyarakat subyek pelajaran. Langkah kedua, merencanakan dan menentukan dengan tepat apa yang akan diajarkan. Dalam hal ini, pengajar mempelajari kurikulum yang akan diajarkan dan waktu yang tersedia bagi kurikulum tersebut. Langkah ketiga, rencana-rencana harian setiap bab dikembangkan. Dengan kata lain seorang pengajar menentukan dengan tepat apa yang harus diketahui oleh siswa dan merencanakan kegiatan yang akan mendorong tercapainya hasil yang diharapkan. Pada dasarnya, tujuan dituliskan dan strategi instruksional yang dipilih. Langkah keempat, meliputi pengajaran kegiatan yang telah direncanakan. Pengajar membimbing siswa melalui kegiatan yang terencana dan berusaha memahami keadaan siswa, teori pengajaran, dan teknik pengajaran yang efektif. Langkah kelima, pengajar menentukan apakah sudah mencapai maksud dan tugas-tugas, yaitu pengajar harus menguji penguasaan siswa atas pemahaman tertentu. Hasil dari evaluasi akan memberikan petunjuk apa yang harus dilakukan. Langkah keenam, tindak lanjut yakni dapat menjadi rangkuman singkat dari pelajaran pada waktu yang lain. Pengajaran kembali sebagai tambahan mungkin juga diperlukan. Tambahan tindak lanjut oleh seorang pengajar tergantung temuan pada analisis evaluasi.

D. Penutup

Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan ke dalam beberapa hal berikut:

1. E-learning sering digunakan semua kegiatan pendidikan yang menggunakan media komputer atau internet. Keuntungan e-learning antara lain fleksibilitas waktu dan tempat, kecepatan pembelajaran dan distribusi, standarisasi dan efektivitas pengajaran, ketersediaan on-demand dan otomatisasi proses administrasi.

2. Strategi e-learning meliputi analisa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

3. Pembelajaran yang efektif meliputi persiapan atau perencanaan, pelaksanaan dan penilaian (evaluasi). Ciri pembelajaran yang efektif yakni aktif/interaktif, kovert, kompleks dan memperhatikan individual siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Boediono. 1998. Panduan Manajemen Sekolah. Direktorat Pendidikan Menengah Umum Ditjen Dikdasmen, Melalui proyek Peningkatan Mutu SMU.

Dick, Walter & Carey, Lou. 1990. The Systematic Design of Instructional. Boston: Allyn & Bacon.

Dunne, Richard & Wragg, Ted. 1996. Pembelajaran Efektif (diterjemahkan oleh Anwar Jasin). Jakarta: Gramedia.

Effendi, Empy dan Hartono Zhuang. 2005. E-Learning Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Andi Offset.
Moore, Kenneth D. 1999. Middle and Secondary School Instructional Methods, Seconds Edition. Boston: McGraw-Hill Companies, Inc.Ryann, Ellis. 2004. Learning Circuits e-learning Trenss. http://www.learmingcircuits.org/2004/nov/2004/LC-Trends-2004.htm.
Suyanto. 1995. Efektivtas dan Kualitas Sekolah. Yogyakarta: DEPDIKBUD.
Sutikno, M. Sobry. 2004. Model Pembelajaran Interaksi Sosial, Pembelajaran Efektif dan Retorika. Lombok: Nusa Tenggara Pratama Press.