Latest Entries »

ABSTRAK

Dunia pendidikan dan pelatihan di Indonesia sedang dan harus berubah. Kita tidak bisa hanya mengandalkan praktik pendidikan dan pelatihan seperti beberapa tahun lalu. Perubahan di dunia pendidikan dan pelatihan lebih dituntut dengan meningkatnya standar produktivitas yang ditetapkan, baik oleh pemerintah (Badan Akreditasi Nasional) maupun swasta internasional (ISO). Oleh karena itu, dunia pendidikan dan pelatihan memerlukan cara baru menjawab tantangan tersebut. Mereka membutuhkan teknologi yang dapat menyediakan pendidikan dan pelatihan yang cepat, metode lebih efektif, dan persiapan lebih singkat. E-larning menjawab semua tantangan tersebut. Seiring dengan berkembangnya internet di dunia, semua aktivitas di bawa ke internet. Akibatnya, konektivitas semua individu selalu terjaga, melampaui batas kota dan negara.

Pembelajaran efektif ialah suatu pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Proses pembelajarannya bercirikan: aktif, kovert, kompleks dan dipengaruhi oleh perbedaanindividusiswa.

B.Pendahuluan

Dunia pendidikan dan pelatihan merambah dalam keunggulan internet. Apabila anda sedang surfing di intermet, pasti mudah menemukan situs-situs yang menawarkan layanan edukasi secara online Penggunaan e-learning benar-benar fenomena yang luar biasa, sampai-sampai John Chambers, CEO Cisco Systems, mengatakan bahwa e-learning adalah ‘’the next killerapp’’atau aplikasibesar berikutnya.

Perusahaan-perusahaan di dunia mulai menggunakan teknologi e-learning untuk melatih karyawan. Survei yang diadakan ASTD (American Society for Training & Development) tahun 2004 mengungkapkan bahwa hampir 60 % perusahaan di Amerika telah atau mulai mengimplementasikan e-learing di perusahaan mereka. Betapa pesatnya kemajuan e-learning, disbanding dengan umurnya yang masih seumur jagung. E-learning pun telah melanda dunia akademis. Di AS, e-learning telah digunakan di hampir 90% universitas yang memiliki lebih dari 10.000 siswa. Gerhard Casper, presiden Stanford University di AS, menyatakan yakin dalam waktu sepuluh tahun ke depan, pendidikan akan berganti dari pendidikan di kelas ke pendidikan online. Di Indonesia, e-learning mulai diterapkan beberapa perusahaan dan akademis.

Meningkatnya penggunaan internet sekitar 100% setiap tahun memberikan andil cukup besar dalam kemajuan penggunaan e-learning. Teknologi internet yang digunakan telah menunjukkan kemajuan di beberapa kota besar, di mana telah tersedia layanan internet broadband yang memungkinkan transfer data secara singkat. Adanya fasilitas transfer data yang cepat membuat pengguna e-learning di Indonesia dapat men-download pelajaran dan server dalam waktu singkat sehingga kenyamanan pelajar meningkat. Hal tersebut disadari oleh ilmu komputer.com yang telah berdiri sejak tahun 2003. Ilmu komputer.com dibuka untuk menyediakan materi dan kuliah gratis berbahasa Indonesia di bidang ilmu komputer dan teknologi informasi bagi siapa pun yang ingin men-download. Saat ini, ilmu komputer.com telah tumbuh menjadi sebuah komunitas terbuka e-learning gratis ilmu komputer Indonesia.

Perusahaan-perusahaan lokal mulai mengadopsi e-learning untuk kegiatan pelatihan karyawan. Bank Mandiri telah meluncurkan Learning Management System (LMS) dan pelajaran-pelajaran e-learning untuk melatih sekitar 18 ribu orang karyawannya yang tersebar di hampir 700 kantor cabang, PT SAP Indonesia, PT Telekomunikasi Indonesia dan IBM Indonesia pun menerapkan e-learning untuk mengembangkan sumber daya manusia.

Beberapa perusahaan e-learning dunia mulai melirik Indonesia untuk bisnisnya. SkillCoft, misalnya telah menunjuk perusahaan representatif di Indonesia untuk menjual produknya. Hal sama dilakukan Hewlett Packard, IBM, Oracle dan Cisco. Penggunaan e-learning telah merambah dunia akademis Indonesia. Universitas Terbuka telah menyediakan beberapa tutorial secara online. Institut Teknologi Bandung (ITB) pun telah menawarkan sejumlah pelajaran online learning melalui Open Learning System (OLSys). Universitas Petra, Universitas Gajah Mada, Universitas Bina Nusantara, dan Universitas Pelita Harapan telah memberikan pula beberapa pelajaran dalam bentuk e-learning. Lebih lanjut, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) sudah mengembangkan dan menyiapkan e-learning dengan membangun wireless area network (WAN) di sembilan kota. Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (Pustekkom) Depdiknas mengeluarkan beberapa mata pelajaran yang berbentuk multimedia, yang ditujukan terutama untuk pelajaran SMA. Pustekkom telah meluncurkan e-dukasi.net yang bermaksud memberikan materi pelajaran bagi siswa dan guru secara gratis. Situs yang bertujuan untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan melalui penyediaan sumber belajar yang dapat diakses dari manapun, kapanpun, dan oleh siapapun merupakan langkah nyata Departemen Pendidikan Nasional mengikutsertakan e-learning dalam proses belajar mengajar di Indonesia.

Pembelajaran efektif merupakan jantungnya lembaga institusi pendidikan efektif (sekolah maupun perguruan tinggi). Pembelajaran efektif adalah suatu pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa/siswa/peserta didik untuk belajar keterampilan spesifik, ilmu pengetahuan, dan sikap serta yang membuat siswa senang (Dick & Reiser, 1989). Dunne & Wragg (1996) menjelaskan bahwa pembelajaran efektif memudahkan murid belajar sesuatu yang bermanfaat, seperti fakta, keterampilan, nilai, konsep, cara hidup serasi dengan sesama, atau sesuatu hasil belajar yang diinginkan. Selanjutnya, Dunne &Wragg (1996) menjelaskan bahwa pengajar yang efektif mempunyai harapan yang jelas mengenai apa yang harus dicapai anak-anak dan menyampaikan harapan itu kepada mereka. Satu cara menyampaikannya adalah dengan mendiskusikannya dan menjelaskannya dengan anak-anak sebelum, selama dan sesudah pengajaran dilakukan. Istilah-istilah analisis yang digunakan di sini akan menyangkut kejelasan pokok bahasan mana yang segera dapat diingat, jenis keterampilan apa yang seharusnya dikuasai, dan konsep mana yang terpenting untuk dipahami.

Dalam proses pembelajaran, seorang pengajar (dosen) dituntut untuk dapat membangkitkan motivasi belajar pada diri peserta didik. Budiono (1998) menjelaskan bahwa salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik ialah bahwa seorang pengajar dapat menggunakan model pembelajaran yang inovatif sehingga peserta didik menikmati kegiatan pembelajaran. Untuk mendorong dan memudahkan mahasiswa dalam belajar, John M. Keller (dalam Driscoll, 1994; Reigeluth, 1987; Gagne, 1989) menjelaskan bahwa diperlukan penyediaan 4 (empat) kondisi motivasional, yaitu Attention, Relevance, Confidence, dan Satisfaction (ARCS) model. Di samping penggunaan model ARCS sebagai upaya memudahkan mahasiswa untuk belajar, penggunaan strategi-strategi kognitif yang terdiri dari framing, chunking, concept mapping, the advance organizer, metaphor, rehearsal, imagery, and mnemonics (West, Farmer, & Wolff, 1991) merupakan cara mengefektifkan pembelajaran. Mozes R. Toelihere & Yuhara Sukra (1986) menjelaskan bahwa kapur tulis dan papan tulis merupakan perangkat pembantu mengajar yang sangat efektif dan tidak boleh dianggap remeh karena terdapat di mana-mana. Daftar rancangan pengajaran istilah secara tepat dan ilustrasi, dapat dituangkan di papan tulis secara lancar selama kuliah atau diskusi berlangsung. Transparansi atau slide, film, dan proyeksi overhead sering juga digunakan untuk mengilustrasikan dan menghidupkan kuliah. Terlihat di sini bahwa setiap tapan pengajar/dosen perlu mengadakan keputusan-keputusan, misalnya tentang model apa yang harus dipakai untuk mengajar pelajaran tertentu; alat apakah yang diperlukan untuk membantu mahasiswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan; perlukah mahasiswa membuat catatan, melakukan praktikum, menyusun makalah, atau cukup dengan hanya mendengar ceramah dosen saja; bagian manakah yang perlu penekanan lebih banyak ataukah semua bagian sama perlunya.

Setiap keputusan yang diambil oleh dosen selalu mencakup pemberian nilai atau pertimbangan serta pemilihan antara beberapa alternatif yang jarang sekali bersifat benar atau salah, tetapi lebih banyak bersifat ‘’manakah yang akan memberi hasil yang lebih baik?’’. Dalam proses belajar mengajar, dosen selalu dihadapkan kepada pemilihan apa yang harus dilakukan, siapa yang melakukan, bagaimanakah cara melakukannya, dan yang lebih penting, mengapa hal tersebut perlu dilakukan.

Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat, dosen perlu mempunyai landasan pengetahuan yang memadai tentang mahasiswa dan karakteristiknya, teori dan prinsip belajar, perancangan dan pengembangan sistem instruksional. Selain itu pemilihan model mengajar yang efektif, penilaian hasil belajar mahasiswa serta masalah-masalah yang mungkin akan dihadapi di dalam pengelolaan proses belajar mengajar dan cara penanggulangannya perlu juga diketahui. Bekal ini sangat penting artinya bagi dosen karena akan memberikan landasan ilmiah tentang langkah-langkah dan keputusan yang diambilnya dalam usaha membantu mahasiswa mengembangkan diri, mengarahkan dan memperlancar proses belajar mahasiswa, mendeteksi adanya masalah pendidikan, serta mencari alternatif pemecahannya. Pemikiran persiapan yang sistematik dan pengaturan penyajian yang baik menunjukkan karakteristik mengajar yang baik dan seharusnya mengacu pada teori dan hasil penelitian yang ilmiah. Jadi sebagai seorang profesional, semua tindakan dosen tergantung pada ilmu mengajar dan pengetahuan tentang anak didik yang dikuasainya, bukan pada intuisi atau logikanya saja. Dosen berusaha memahami dan mendiagnosis situasi kelas, kemudian bertindak selektif serta kreatif untuk memperbaiki kondisi sehingga dapat menciptakan situasi belajar dan mengajar yang baik.
C. Pembahasan

1. Peran E-Learning

Di dunia pendidikan dan pelatihan sekarang, banyak sekali praktik yang disebut e-learning. Sampai saat ini, pemakaian kata e-learning sering digunakan semua kegiatan pendidikan yang menggunakan media komputer dan atau internet. Banyak pula penggunaan teknologi yang memiliki arti hampir sama dengan e-learning. Web based learning, online learning, computer-based training/learning, distance learning, computer-aided instruction, dan lain sebagainya, adalah terminologi yang sering digunakan untuk menggantikan e-learning. Terminologi e-learning sendiri dapat mengacu pada semua kegiatan pelatihan yang menggunakan media elektronik atau teknologi informasi. Karena ada bermacam penggunaan e-learning saat ini, maka ada pembagian atau pembedaan e-learning. Menurut Effendi dan Hartono Zhuang (2005:7-8) pada dasarnya, e-learning mempunyai dua tipe, yaitu synchronous and asynchronous.

Synchronous berarti ‘’pada waktu yang sama’’. Jadi, synchronous training adalah tipe pelatihan, di mana proses pembelajaran terjadi pada saat yang sama ketika pengajar sedang mengajar dan murid sedang belajar. Hal tersebut memungkinkannya interaksi langsung antara guru dan murid, baik melalui internet maupun intranet. Pelatihan e-learning synchronous lebih banyak digunakan seminar atau konferensi yang pesertanya berasal dari beberapa Negara. Penggunaan tersebut sering pula dinamakan web conference atau webinar (web seminar) dan sering digunakan kelas atau kuliah universitas online. Jadi synchronous training sifatnya mirip pelatihan di ruang kelas. Namun kelasnya bersifat maya (virtual) dan peserta tersebar di seluruh dunia dan berhubung melalui internet. Oleh karena itu, synchronous training sering pula dinamakan virtual classroom. Asynchronous berarti ‘’tidak pada waktu yang bersamaan’’. Jadi, seseorang dapat mengambil pelatihan pada waktu yang berbeda dengan pengajar memberikan pelatihan. Pelatihan ini lebih populer di dunia e-learning karena memberikan keuntungan lebih bagi peserta pelatihan karena dapat mengakses pelatihan kapanpun dan dimanapun. Pelatihan berupa paket pelajaran yang dapat dijalankan di komputer manapun dan tidak melibatkan interaksi dengan pengajar atau pelajar lain. Oleh karena itu, pelajar dapat memulai pelajaran dan menyelesaikannya setiap saat. Paket pelajaran berbentuk bacaan dengan animasi, simulasi, permainan edukatif, maupun latihan atau tes dengan jawabannya. Akan tetapi, ada pelatihan asynchronous training yang terpimpin, di mana pengajar memberikan materi pelajaran lewat internet dan peserta pelatihan mengakses materi pada waktu yang berlainan. Pengajar dapat pula memberikan tugas atau latihan dan peserta mengumpulkan tugas lewat email. Peserta dapat berdiskusi atau berkomentar dan bertanya melalui bulletin board.

E-learning umumnya selalu diidentifikasikan dengan penggunaan internet untuk menyampaikan pelatihan. Namun, saat ini, media penyampaian e-learning sangat beragam. Penyampaian pelajaran lewat internet dilakukan oleh perusahaan-perusahaan e-learning dan universitas online seperti Universitas Global 21 atau University 24/7. hal ini karena mereka ingin memperoleh jumlah pelajar yang besar dan berasal dari berbagai wilayah. Oleh karena itu, internet, yang memiliki jangkauan luas, menjadi pilihan media yang tepat. Karena faktor keamanan data dan biaya koneksi, perusahaan umumnya menggunakan intranet yang menghubungkan komputer-komputer di kantor-kantor cabang. Perusahaan pun menggunakan internet untuk memberikan akses dari rumah bagi karyawan. Sekolah-sekolah yang memiliki laboratorium komputer menggunakan local area network (LAN) untuk menghubungkan komputer sebagai media e-learning. Apabila ada situasi, di mana network komputer tidak tersedia, e-learning dapat diberikan dalam media CDROM. Jadi, peserta dapat membawa CDROM dan memainkannya di komputer rumah maupun komputer di meja kantor.

Keuntungan penggunaan e-learning dijelaskan oleh Effendi dan Hartono Jhuang (2005:9) antara lain: Mengurangi biaya pelatihan, fleksibilitas waktu, fleksibilitas tempat, fleksibilitas kecepatan pembelajaran, standarisasi pengajaran, efektivitas pengajaran, kecepatan distribusi, ketersediaan on-Demand dan otomatisasi proses administrasi. Sedangkan lebih lanjut keterbatasannya menurut Effendi dan Hartono (2005:15) antara lain: menuntut budaya self learning, investasi, teknologi, infrastruktur dan materi.

Sedangkan strategi e-learning melibatkan empat tahap: analisa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Analisa dapat dilakukan dengan analisa SWOT (Strengths-Weakness-Opportunities-Threats) yakni analisa berdasarkan kekuatan, kelemahan, peluang atau ancaman). Faktor-faktor yang harus dianalisa antara lain kebutuhan organisasi, kebutuhan pelatihan, budaya organisasi dan infrastruktur. Perencanaan merupakan sesuatu yang harus dilakukan dalam strategi apapun. Hasil analisa tahap sebelumnya menjadi dasar proses menyusun rencana penerapan e-learning. Perencanaan yang dibuat meliputi banyak aspek strategi. Aspek perencanaan utama yang harus kita tinjau adalah network, learning management system, materi dan marketing. Pelaksanaan, tim yang terkait mulai melaksanakan rencana kerja yang telah disepakati pada tahap perencanaan. Pertama-tama, kita harus memilih anggota tim yang dibutuhkan untuk melaksanakan rencana penerapan program e-learning. Anggota tim berasal dari berbagai departemen dan latar belakang yang berbeda. Tahap ini memerlukan keahlian project management yang andal untuk memastikan koordinasi dan eksekusi pekerjaan sesuai rencana dan tidak menyimpang dari tujuan dan strategi. Keahlian kepemimpinan (leadership skill) yang tinggi sangat diperlukan agar tim dapat menyatu dan bekerja sama dengan baik. Tahap pelaksanaan meliputi: pre-launch, launch dan post-launch. Evaluasi dilakukan terhadap hasil pembelajaran peserta pelatihan yang berhubungan dengan pemakaian materi. Penilaian akan dilakukan secara bertingkat sebagai berikut: (1) mengukur kepuasaan peserta pelatihan dari segi interaksi dan tampilan program e-learning; (2) mengukur hasil pembelajaran, apakah peserta pelatihan dapat menyerap materi; (3) mengukur apakah materi pembelajaran benar-benar digunakan oleh peserta pelatihan ketika melakukan kegiatan sehari-hari sehingga kinerja meningkat; dan (4) mengukur berapa banyak hasil yang didapat oleh organisasi dengan adanya pelatihan e-learning sehingga kinerja sumber daya manusia meningkat. Hasil tersebut dapat dibandingkan dengan jumlah investasi yang ditanam agar mendapatkan hasil ROI (return on investment) dari penerapan e-learning.

 

2. Pembelajaran Efektif

Pembelajaran merupakan upaya sadar dan disengaja oleh dosen/pengajar untuk membuat mahasiswa/siswa belajar melalui pengaktifan berbagai unsur dinamis dalam proses belajar siswa. Beberapa ciri-ciri pembelajaran dikemukakan oleh Gagne (1975), sebagai berikut: Mengaktifkan motivasi, memberikan tujuan belajar, mengarahkan perhatian, merangsang ingatan, menyediakan bimbingan belajar, meningkatkan retensi, melancarkan transfer belajar dan memperlihatkan penampilan dan memberikan umpan balik. Lebih lanjut Oemar Hamalik (1999) menjelaskan tiga ciri khas yang terkandung dalam sistem pembelajaran sebagai berikut: (1) Rencana, ialah penataan ketenagaan, material, dan prosedur, yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran dalam suatu rencana khusus; (2) salingketergantungan (interdependence) di antara unsur-unsur sistem pembelajaran yang serasi dalam suatu keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial dan masing-masing memberikan sumbangannya kepada sistem pembelajaran; (3) tujuan, sistem pembelajaran mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Pembelajaran efektif menurut Sutikno (2004:88) ialah suatu pembelajaran yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang dinginkan.

Menurut Prof. Dr. Nasution (1989) menyebutkan ciri-ciri pengajar yang efektif antara lain: (1) mulai dan mengakhiri pelajaran tepat pada waktunya; (2) berada terus di dalam kelas dan mengunakan sebagian besar dari jam pelajaran untuk mengajar dan membimbing pelajaran; (3) memberi intisari pelajaran lampau pada permulaan pelajaran baru; (4) mengemukakan tujuan pelajaran lampau pada permulaan pelajaran; (5) menyajikan pelajaran baru langkah demi langkah dan memberikan latihan pada akhir setiap pelajaran; (6) memberikan latihan praktis yang mengaktifkan semua siswa; (7) memberikan bantuan siswa, khususnya pada permulaan pelajaran; (8) mengajukan banyak pertanyaan dan berusaha memperoleh jawaban dari semua atau sebanyak-banyaknya siswa untuk mengetahui pemahaman setiap siswa; (9) bersedia mengajar kembali apa yang belum dipahami siswa; (10) membantu kemajuan siswa, memberikan bahan/materi yang sistematis dalam memperbaiki setiap kesalahan; (11) mengadakan review atau pengulangan tiap minggu secara teratur, dan (12) mengadakan evaluasi berdasarkan tujuan yang telah dirumuskan. Banyak upaya yang dapat dilakukan oleh dosen dalam meningkatkan keefektifan pembelajaran. Pendekatan sistem dalam perancangan pembelajaran model Dick & Carey (1990) terdiri dari sepuluh langkah, yakni identifikasi tujuan pembelajaran dengan analisis kebutuhan, analisis pembelajaran, identifikasi kemampuan awal dan karakteristik peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran khusus, pengembangan tes acuan patokan, pengembangan strategi pembelajaran, pengembangan dan pemilihan materi pembelajaran, perancangan dan penyelenggaraan evaluasi formatif, revisi, serta rancangan dan penyelenggaraan evaluasi sumatif. Setiap penyelenggaraan pembelajaran perlu menguasai pelaksanaan langkah-langkah pendekatan sistem perancangan pembelajaran agar pembelajaran yang dilaksanakan bisa efektif. Heinich, Molenda, Russel dan Smaldino (1996) menyebutnya penggunaan model ASSURE (Analyse learners, State objectives, Select methods, media, and materials, Utilize media and materials, Require learner participation, dan Evaluate and revise). Moore (1999) menjelaskan 6 langkah yang berkesinambungan dalam suatu model pengajaran yang efektif, yaitu (1) memahami situasi dalam belajar, (2) merencanakan pelajaran, (3) merencanakan tugas-tugas, (4) melaksanakan kegiatan belajar, (5) pengajar menentukan ketercapaian maksud, dan tugas(6) menindak lanjuti. Langkah pertama meliputi pemilihan kurikulum yang akan diajarkan. Proses pemilihan ini didasarkan pada kebutuhan siswa, masyarakat subyek pelajaran. Langkah kedua, merencanakan dan menentukan dengan tepat apa yang akan diajarkan. Dalam hal ini, pengajar mempelajari kurikulum yang akan diajarkan dan waktu yang tersedia bagi kurikulum tersebut. Langkah ketiga, rencana-rencana harian setiap bab dikembangkan. Dengan kata lain seorang pengajar menentukan dengan tepat apa yang harus diketahui oleh siswa dan merencanakan kegiatan yang akan mendorong tercapainya hasil yang diharapkan. Pada dasarnya, tujuan dituliskan dan strategi instruksional yang dipilih. Langkah keempat, meliputi pengajaran kegiatan yang telah direncanakan. Pengajar membimbing siswa melalui kegiatan yang terencana dan berusaha memahami keadaan siswa, teori pengajaran, dan teknik pengajaran yang efektif. Langkah kelima, pengajar menentukan apakah sudah mencapai maksud dan tugas-tugas, yaitu pengajar harus menguji penguasaan siswa atas pemahaman tertentu. Hasil dari evaluasi akan memberikan petunjuk apa yang harus dilakukan. Langkah keenam, tindak lanjut yakni dapat menjadi rangkuman singkat dari pelajaran pada waktu yang lain. Pengajaran kembali sebagai tambahan mungkin juga diperlukan. Tambahan tindak lanjut oleh seorang pengajar tergantung temuan pada analisis evaluasi.

D. Penutup

Berdasarkan beberapa penjelasan tersebut di atas, maka dapat disimpulkan ke dalam beberapa hal berikut:

1. E-learning sering digunakan semua kegiatan pendidikan yang menggunakan media komputer atau internet. Keuntungan e-learning antara lain fleksibilitas waktu dan tempat, kecepatan pembelajaran dan distribusi, standarisasi dan efektivitas pengajaran, ketersediaan on-demand dan otomatisasi proses administrasi.

2. Strategi e-learning meliputi analisa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

3. Pembelajaran yang efektif meliputi persiapan atau perencanaan, pelaksanaan dan penilaian (evaluasi). Ciri pembelajaran yang efektif yakni aktif/interaktif, kovert, kompleks dan memperhatikan individual siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Boediono. 1998. Panduan Manajemen Sekolah. Direktorat Pendidikan Menengah Umum Ditjen Dikdasmen, Melalui proyek Peningkatan Mutu SMU.

Dick, Walter & Carey, Lou. 1990. The Systematic Design of Instructional. Boston: Allyn & Bacon.

Dunne, Richard & Wragg, Ted. 1996. Pembelajaran Efektif (diterjemahkan oleh Anwar Jasin). Jakarta: Gramedia.

Effendi, Empy dan Hartono Zhuang. 2005. E-Learning Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Andi Offset.
Moore, Kenneth D. 1999. Middle and Secondary School Instructional Methods, Seconds Edition. Boston: McGraw-Hill Companies, Inc.Ryann, Ellis. 2004. Learning Circuits e-learning Trenss. http://www.learmingcircuits.org/2004/nov/2004/LC-Trends-2004.htm.
Suyanto. 1995. Efektivtas dan Kualitas Sekolah. Yogyakarta: DEPDIKBUD.
Sutikno, M. Sobry. 2004. Model Pembelajaran Interaksi Sosial, Pembelajaran Efektif dan Retorika. Lombok: Nusa Tenggara Pratama Press.

  1. A.    LATAR BELAKANG MASALAH

Guru memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam upaya membentuk watak bangsa dan mengembangkan potensi siswa dalam kerangka pembangunan pendidikan di Indonesia. Kehadiran guru hingga saat ini bahkan sampai akhir zaman nanti tidak akan pernah dapat digantikan oleh teknologi secanggih apapun. Oleh sebab itu, dalam melaksanakan tugas-tugas guru yang cukup komplek dan unik, diperlukan guru yang memiliki kemampuan maksimal untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan diharapkan secara kontinyu guru dapat meningkatkan kompetensinya. Usman (2002) menyatakan bahwa guru dengan kompetensi tinggi adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan, sehingga Ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan yang maksimal.

Belakangan ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK) semakin menjadi tren untuk dilakukan oleh para profesional sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan mutu di berbagai bidang. Awal mulanya PTK ditujukan untuk mencari solusi terhadap masalah sosial (pengangguran, kenakalan remaja, dan lain-lain) yang berkembang di masyarakat pada saat itu. PTK dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap masalah tersebut secara sistematis. Hal ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam proses pelaksanaan rencana yang telah disusun, kemudian dilakukan suatu observasi dan evaluasi yang dipakai sebagai masukkan untuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada tahap pelaksanaan. Hasil dari proses refeksi ini kemudian melandasi upaya perbaikan dan peryempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan di atas dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan sampai suatu kualitas keberhasilan tertentu dapat tercapai.

Dalam bidang pendidikan, khususnya kegiatan pembelajaran, PTK berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi guru untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas. Dengan melaksanakan tahap-tahap PTK guru dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain. Dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif. Selain itu sebagai penelitian terapan, disamping guru melaksanakan tugas utamanya mengajar di kelas, tidak perlu harus meninggalkan siswanya. Jadi PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK, guru mempunyai peran ganda : praktisi dan peneliti.

Hal yang sangat diperlukan agar guru dapat menerapkan PTK sebagai upanya memperbaiki dan meningkatkan layanan pembelajaran secara lebih jauh provesional guru praktisi pendidikan dituntut untuk berani mengatakan secara jujur mengenai beberapa sisi lemah yang masih terdapat dalam implementasi program pembelajaran yang dikelola. Dengan kata lain, guru / praktisi pendidikan harus mamapu merefleksikan, merenungkan berfikir baik mengenai apa saja yang telah dilakukan dalam proses pembelajaran dalam rangka mengidentifikasikan sisi-sisi lemah mungkin ada. Dalam proses perenungan itu terbuka peluang bagi guru untuk menemukan kelemahan-kelemahan praktik pembelajaran yang selama ini mungkin dilakukan tanpa disadari.

 

  1. A.    Pengertian PTK

PTK merupakan penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substansif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan.

  1. B.     Tujuan Penulisan Laporan PTK

Tujuan penulisan laporan penelitian adalah untuk mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian kepada pihak lain. Selain itu laporan penelitian dimaksudkan sebagai bentuk pertanggungjawaban peneliti kepada pihak tertentu atas proses dan hasil penelitian yang telah dilakukan. Berkenaan itu, peneliti haruslah menyadari untuk siapakah laporan penelitian itu ditulis atau disampaikan. Jawaban terhadap pertanyaan ini mempengaruhi hamper semua bagan atau aspek dalam laporan penelitian. Laporan yang ditulis dan diajukan kepada lembaga pemberi dana penelitian tentu harus disusun sesuai dengan format dan segala ketentuan yang digariskan. Lain lagi kalau laporan itu berupa skripsi, tesis atau disertasi yang ditulis oleh seorang mahasiswa. Laporan penelitian yang ditulis dalam bentuk artikel untuk sebuah jurnal ilmiah tentu berbeda dengan artikel yang disusun dalam bentuk makalah, buku, atau yang akan dipublikasikan di surat kabar atau majalah.

  1. C.    Sistematika Laporan PTK

Laporan penelitian biasanya terdiri dari tiga bagian, bagian awal, bagian isi atau pokok, bagian akhir. Namun, aspek – aspek yang tercakup dalam masing – masing bagian bisa bervariasi. Hal ini bergantung pada jenis penelitian maupun lembaga penelitian atau lembaga penyandang dana penelitian.

                               I.  Bagian Awal

a. Halaman Judul

b. Halaman Pengesahan

c. Abstrak

Ditulis dengan ringkas dan jelas hal-hal pokok tentang

a)         Tujuan penelitian

b)         Metode penelitian dan

c)         Hasil penelitian. Ditulis satu spasi tanpa judul / sub judul.  Ditulis maksimal satu halaman.

d)        Kata Pengantar

Minimal memuat ucapan syukur kepada Allah SWT, dan ucapan terima kasih pada berbagai pihak yang telah membantu pelaksanaan PTK. Tidak harus ditanda tangani, cukup dengan nama peneliti utama/ketua peneliti.

e)         Daftar Isi

Memuat pokok-pokok PTK dari halaman judul sampai lampiran-lampiran. Sistematika penulisan daftar isi menggunakan sistematika yang lazim, seperti pada skripsi atau tulisan ilmiah lainnya.

f)          Daftar Tabel (jika ada)

Jika dalam laporan PTK trdapat lebih dari dua buah tabel, maka perlu dibuat daftar tabel tersendiri. Daftar tabel memuat nomor tabel, judul tabel, dan halaman tabel tersebut berada.

g)         Daftar Gambar (jika ada)

Jika dalam laporan PTK trdapat lebih dari dua buah gambar, maka perlu dibuat daftar tabel tersendiri. Daftar gambar memuat nomor gambar, judul gambar, dan halaman gambar tersebut berada.

h)         Daftar Lampiran

Segala sesuatu yang dilampirkan ditulis di sini. Berisi nomor lampiran, judul lampiran, halaman berapa lampiran tersebut dilampirkan. Sebaiknya lampiran-lampiran disusun secara kornologis.

 

                           Bagian Isi

BAB I: PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Diskripsi masalah, data awal yang      mendukung adanya     masalah dan akar timbulnya masalah dengan            menunjukkan   pada lokasi penelitian dan waktu serta           penjelasan pentingnya masalah itu dipecahkan.

  1. Rumusan Masalah

Diharapkan kalimat tanya.

  1. Tujuan Penelitian

Disesuaikan dengan rumusan masalah.

  1. Manfaat Penelitian

Sesuaikan dengan apa yang direncanakan pada proposal,      namun peneliti dapat mengembangkannya.

BAB II: LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori

B. Hasil Penelitian Terdahulu

C. Kerangka Pemikiran

D. Hepotesis Tindakan

BAB III: METODE PENELITIAN

A. Setting Penelitian

B. Subjek Penelitian

C. Data dan Sumber Data

D. Teknik Pengumpulan Data

E. Validitas Data

F. Teknik Analisis Data

G. Indikator Kinerja

H. Prosedur Penelitian

BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Kondisi Awal

Diuraikan kondisi awalnya, dapat disajikan dengan menggunakan tabel maupun grafik.

  1. Deskripsi Hasil Siklus I

1. Perencanaan Tindakan

a. Kegiatan Awal(Apersepsi)

b. Kegiatan Inti

c. Penutup

2. Pelaksanaan Tindakan

Tindakannya apa sesuai perencanaan awal, prosesnya seperti apa

3. Pengamatan Tindakan

a. Prosesnya Bagaimana

b. Hasilnya Apa

4. Refleksi

mana yang sudah atau belum berhasil, mengapa dan bagaimana   tindakan selanjutnya.

  1. Deskripsi Hasil Siklus II (seperti siklus I)

1. Perencanaan Tindakan

a. Kegiatan Awal(Apersepsi)

b. Kegiatan Inti

c. Penutup

2. Pelaksanaan Tindakan

Tindakannya apa sesuai perencanaan awal, prosesnya seperti apa

3. Pengamatan Tindakan.

a. Prosesnya Bagaimana

b. Hasilnya Apa

4. Refleksi

Mana yang sudah atau belum berhasil, mengapa dan bagaimana tindakan selanjutnya.

  1. Deskripsi Hasil Siklus III dst, seperti siklus I
  2. Pembahasan (Diskusi)

1. Pembahasan Tindakan

2. Pembahasan Hasil Pengamatan

3. Pembahasan Hasil Refleksi

  1. Hasil Penelitian

Diambil dari hasil pembahasan, khususnya hasil pembahasan refleksi. Berdasarkan pada data empirik dan berupa proposisi, pada bab ini ada dua kemungkinan yaitu mendukung hipotesis atau menolak hipotesis.

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan

Sintesis dari berbagai temuan penelitian, bersifat terpadu dan menyeluruh, mengemukakan seluruh hasil penelitian sebagai kesatuan yang utuh dari data yang bersifat terpisah.

  1. Saran

Berikan saran tindak lanjut berdasarkan simpulan yang diperoleh baik yang menyangkut segi positif maupun negatifnya. Didasarkan pada kesimpulan penelitian yang diperoleh, dijabarkan secara terperinci, dan bersifat operasional, mudah dimengerti.

 

                               I.  Bagian Akhir

DAFTAR PUSTAKA

Memuat semua sumber pustaka yang digunakan dalam penelitian dengan menggunakan sistem yang telah dibakukan secara konsisten.

LAMPIRAN-LAMPIRAN

Berisi rancangan materi/ bahan ajar, semua instrumen penelitian, contoh jawaban siswa, dokumen/ foto kegiatan, ijin penelitian, serta bukti lain yang dipandang perlu .

 

Tujuan Penulisan laporan PTK

Menurut Babang Robandi (2008), tujuan atau manfaat dari penulisan laporan PTK di antaranya adalah mendapat  pengalaman nyata untuk memperbaiki pembelajaran, dapat digunakan sebagai bahan masukan  untuk inovasi pembelajaran, dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk mengembangkan kurikulum tingkat kelas, dapat digunakan untuk meningkatkan kepekaan atau profesionalisme guru, guru lebih percaya diri untuk berkembang secara professional maupun akademik  guru berperan aktif menyumbangkan pengetahuan dan keterampilan sendiri. Sedangkan tujuan penulisan laporan PTK pada karangan asli lebih berfokus pada mengkomunikasikan hasil-hasil penelitian kepada pihak lain dan sebagai bentuk pertanggungjawaban peneliti kepada pihak tertentu atas proses dan hasil penelitian yang telah dilakukan.

Menurut Natawidjaya (1997: 10) tujuan PTK adalah (a) untuk menanggulangi masalah atau kesulitan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang dihadapi guru dan tenaga kependidikan, (b) untuk memberikan pedoman bagi guru atau administrator pendidikan di sekolah guna memperbaiki dan meningkatkan mutu kinerja atau mengubah sistem kerjanya agar menjadi lebih baik dan produktif, (c) untuk melaksanakan program latihan (dalam jabatan guru), (d) untuk memasukkan unsur-unsur pembaruan dalam sistem pembelajaran yang sedang berjalan dan sulit untuk ditembus oleh pembaharuan pada umumnya, (e) untuk membangun dan meningkatkan mutu komunikasi dan interaksi antara praktisi pendidikan dengan para peneliti akademis, dan (f) untuk perbaikan suasana keseluruhan sistem atau masyarakat sekolah.

Apabila tujuan PTK dapat tercapai dengan baik, maka setidaknya ada 4 manfaat yang diperoleh guru, yaitu (a) guru dapat melakukan inovasi pembelajaran, (b) guru dapat meningkatkan kemampuan reflektifnya dan mampu memecahkan permasalahan pembelajaran yang dihadapinya, (c) guru akan terlatih untuk mengembangkan secara kreatif kurikulum sekolah, (d) kemampuan reflektif guru serta keterlibatan guru yang dalam upaya inovasi dan pengembangan kurikulum pada akhirnya akan bermuara pada tercapainya peningkatan kemampuan profesionalisme guru.

 

DAFTAR PUSTAKA

Sutama. 2011. Penelitian Tindakan, Teori dan Praktek dalam PTK, PTS, dan PTBK. Surakarta: Fairuz Media.

Robandi, Bambang. Penyusunan Laporan Penelitian Tindakan Kelas. Sumedang: Diklat Nasional Penelitian Tindakan Kelas.

1.   KUBUS

Kubus adalah sebuah benda ruang yang dibatasi oleh enam bidang datar yang masing-masing berbentuk persegi yang sama dan sebangun atau kongruen. (Sartono Wirodikromo, 2004:220).

a.   Sisi

Sisi kubus adalah bidang yang dibatasi enam buah bidang datar berbentuk persegi yang kongruen. Enam buah persegi tersebut disebut bidang batas atau bidang sisi kubus.

ABCD disebut sisi bidang alas/bawah, EFGH disebut sisi bidang atas, ABFE disebut sisi bidang tegak depan, CDHG disebut sisi bidang tegak belakang, BCGF disebut sisi bidang tegak samping kanan, ADHE disebut sisi bidang tegak samping kiri.

b.   Rusuk

Rusuk kubus adalah garis perpotongan antara dua sisi kubus. Kubus memiliki 12 buah rusuk yang dapat dikelompokkan sebagai berikut :

i.      Rusuk alas adalah rusuk yang terdapat pada bidang alas/bawah, yakni rusuk AB, BC, CD, dan DA.

ii.     Rusuk atas adalah rusuk yang terdapat pada bidang atas, yakni rusuk EF, FG, GH, dan HE.

iii.    Rusuk tegak adalah rusuk yang terdapat pada bidang tegak, yakni rusuk AE, BF, CG, dan DH.

c.   Titik Sudut

Titik sudut adalah titik potong antara tiga rusuk. Dalam kubus ABCD.EFGH terdapat 8 buah titik sudut yakni titik A, B, C, D, E, F, G, dan H.

d.   Diagonal Bidang

Diagonal bidang adalah garis yang terjadi jika dua titik sudut sebidang yang berhadapan dihubungkan. Pada kubus ABCD.EFGH garis BG dan CF merupakan diagonal bidang pada bidang BCFG.

e.   Diagonal Ruang

Diagonal ruang adalah Garis yang menghubungkan antara titik dalam bangun ruang yang berseberangan.

f.    Volume

Misalkan suatu kubus dengan panjang rusuk a satuan, maka volume kubus ditentukan dengan rumus V = .

g.   Luas

Misalkan suatu kubus dengan panjang rusuk a satuan, maka luas kubus ditentukan dengan rumus L = 6.

Sifat-sifat Kubus

  • Semua sisi kubus berbentuk persegi. Jika diperhatikan sisi ABCD, EFGH, ABEF, DCGH, ADEH, dan BCFG memiliki bentuk persegi yang panjang dan luas yang sama.
  • Semua rusuk kubus berukuran sama panjang.
  • Setiap diagonal bidang pada kubus memiliki ukuran yang sama panjang. Perhatikan ruas garis AC dan BD. Kedua garis tersebut merupakan diagonal bidang kubus ABCD.EFGH yang memiliki ukuran sama panjang.
  • Setiap diagonal ruang pada kubus memiliki ukuran sama panjang. Dari kubus ABCD.EFGH terdapat dua diagonal ruang yaitu HB dan AG yang keduanya berukuran sama panjang.
  • Setiap diagonal ruang pada kubus memiliki bentuk persegi panjang.

(Crayonpedia : 2008)

DAFTAR PUSTAKA

Setyawan HA dkk.2009.”PENGENALAN BANGUN DATAR DAN BANGUN RUANG DENGAN MENGGUNAKAN ANYAMAN PELEPAH PISANG”.

Noormandiri BK.2002.”MATEMATIKA SMA UNTUK KELAS X”.Jakarta:Erlangga.

Crayonpedia.2008(online) http://www.crayonpedia.org/mw/tabung_kerucut

Wirodikromo, Sartono.2004.Matematika SMA Kelas X jilid 2b. Jakarta : Erlangga.

  1. A.    Pengertian dan ciri-ciri belajar
    1. 1.      Pengertian belajar menurut beberapa aliran psikologi

a.)    Pengertian belajar menurut aliran behavioristik

Bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian dalam lingkungan.Dalam aliran ini belajar merupakan perubahan tingakah laku yang terjadi atas dasar paradigma S-R.

Tokoh-tokoh aliran behavioristik

  1. Theory Koneksionisme

Merupakan orang yang pertama memperkenalkan hubungan S-R dengan hukum pengaruhnya.Hukum ini menyatakan bahwa suatu tindakan diikuti oleh suatu perubahan yang memuaskan dalam lingkungan

  1. Ivan Pavlow”classical Conditioning”

Dengan eksperimennya dia dan kawan-kawan menunjukan bagaimana belajar dapat mempengaruhi perilaku yang selama ini disangka reflektif dan tak dapat dikendalikan ,seperti keluarnya air liur.

  1. B.F.Skinner dengan”oprerant conditioning”

Menyatakan;setiap kali orang memperoleh stimulus maka ia akan memberikan respon berdasarkan hubungan S.R.

Ciri aliran behavioristik/perilaku

  1. Mementingkan pengaruh lingkungan
  2. Mementingkan bagian-bagian dari pada keseluruhan
  3. Mementingkan reaksi
  4. Mengutamakan mekanisme terjadinya hasil belajar
  5. Mementingkan sebab terjadinya masa lalu
  6. Mementingkan pembentukan kebiasaan
  7. Mengutamakan proses

Prinsip-prinsip teori behavioristik yang banyak dipakai di dalam dunia pendidikan  adalah:

  • Proses belajar dapat terjadi apabila si pelajar ikut serta secara aktif
  • Materi pembelajaran dibentuk dalam bentuk unit-unit kecil dan diatur berdasarkan urutan logis sehingga si pelajar mudah mempelajarinya
  • Tiap-tiap respon perlu diberi umpan balik secara langsung,sehingga mereka mengetahui apa respon yang diberikannya itu benar atau salah.
  • Setiap kali si pelajar memberikan respon yang benar,ia perlu diberi penguatan.

 

b.)    Pengertian belajar menurut aliran kognitif

Bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuannya.

Tokoh-tokoh belajar menurut aliran kognitif

  1. Teori gestalt yang dasarnya di letakkan oleh Max Wirtheiner.Max Wirtheiner meneliti tentang pengamatan dan problem solving.Kaum Gestaltis berpendapat bahwa pengalamann itu berstruktur yang terbentuk dalam suatu keseluruhan.
  2. Kurt Lewin(teori medannya)

Bertolak dengan Gestalt,ia memandang setiap individu berada dalam suatu medan kekuatan yang bersifat psikologis.

  1. Kurt Lewin berpendapat bahwa tingakah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan-kekuatan,yang baik dari dalam diri individu,antar lain,tujuan,kebutuhan,konflik kejiwaan,maupun yang datang dari luar umpamanya permasalahan.
  2. Teori Belajar”cognitive-developmental”dari piaget

Menurut dia perkembangan kognitif merupakan proses genetik,artinya proses yang didasarkan  atas mekanisme biologis yakni perkembangan system syaraf.Pengaplikasian didalam belajar:perkembangan kognitif bergantung pada akomodasi dan asimilasi.

Prinsip-prinsip kognitif yang banyak digunakan dalam pembelajaran :

  1. Pelajaran disusun berdasarkan pola dan logika tertentu.
  2. Penyusunan bahan pelajaran harus dari sederhana ke kompleks.
  3. Belajar dengan memahami lebih baik daripada hanya dengan menghafal tanpa pengertian.
  4. Adanya perbedaan individual pada pelajar perlu diperhatikan sebab factor ini mempengaruhi skali proses belajar mereka.

Ciri-ciri aliran kognitif

  1. Mengutamakan apa yang ada pada diri manusia
  2. Mementingkan keseluruhan dari pada bagian-bagian peranan kognitif
  3. Mementingkan peranan kognitif
  4. Megutamakan keseimbangan dalam diri manusia
  5. Mementingkan kondisi waktu sekarang
  6. Mementingkan pembentukan struktur kognitif
  7. Mengutamakan “insight”(pengertian)

 

c.)    Pengertian belajar menurut aliran humanistik

Perhatian psikologi humanistik tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan dengan pengalaman-pengalaman individu itu sendiri.

Tokoh-tokoh psikologi humanistik,antara lain:

  1. Combs

Berpendapat bila seseorang ingin memahami perilaku orang lain ia harus mencoba memahami dunia persepsi orang tersebut.Para ahli psikologi humanistic menyatakan ada dua komponene utama

  1. Pemerolehan informasi baru
  2. Personalisasi informasi itu pada diri individu
  3. Maslow

Terorinya didasari oleh asumsi bahwa di dalam diri kita ada 2 hal penting:

  1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang
  2. Adanya kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu

Disamping itu Maslow juga menyatakan adanya tujuan kebutuhan manusia yang tersusun menurut hirarki tertentu.

Prinsip-prinsip aliran humanistic

  1. Manusiai mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami
  2. Belajr yang efektif terjadi apabila bahan pelajaran dirasakan oleh siswa.
  3. Belajar yang mendorong perubahan dalam persepsi mengenai dirinya cenderung ditolaknya.
  4. Apabila ancaman tehadap dirinya rendah,pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara dan omuncullah proses balajar.
  5. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan cara melakukanya.
  6. Belajar akan berjalan lancer apabila siswa terlibat dan ikut bertanggung jawab terhadap proses belajar itu sendiri.
  7. Belajar atas insiatif sendiri yang melibatkan pribadinya secara utuh,baik perasaan maupun intelektualnya dapt memberikan hasil yang intensif dan lestari.
  8. Kepercayaan diri,kemerdekaan,kreatifitas akan lebih mudah dimunculkan melalui kegiatan mawas diri,mengkritik diri,dan kemudian menggunakan penilaian diri dari orang lain.

Ciri-ciri aliran humanistik

  1. Mementingkan peranan kognitif dan afektif
  2. Mengutamakan terjadinya aktualisasi diri dan self konsep
  3. Mengutamakan persepsi subyektif yang dimiliki tiap individu
  4. Mengutamakan kemampuan menentukan bentuk tingkah laku sendiri
  5. Mengutamakan insight

2.)    Ciri-ciri balajar ada 3,yakni:

  1. Aktivitas yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada diri pelajar
  2. Perubahan itu pada pokoknya didapatkanya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yag relatif lama
  3. Perubahan itu terjadi karena usaha.

 

  1. B.     Tujuan belajar dan unsur-unsur dinamis dalam belajar

1.)    Tujuan belajar menurut bloom:

  1. Ranah kognitif

-          Pengetahuan

-          Pemahaman

-          Penerapan

-          Analisis

-          Sintesis

-          Evaluasion

  1. Ranah afektif

-          Kemampuan menerima

-          Kamauan menanggapi

-          Berkeyakinan

-          Penerapan kerja

-          Ketelitian

  1. Ranah psikomotor

-          Gerak tubuh

-          Koordinasi gerak

-          Komunikasi non-verbal

-          Perilaku bicara

2.)    Unsur-unsur dinamis dalam belajar

  1. Motivasi dan upaya memotivasi siswa yang belajar
  2. Bahan belajar dan upaya penyedianya
  3. Alat bantu belajar dan upaya penyediannya
  4. Suasana belajar dan upaya pengembanganya
  5. Kondisi subyek yang belajar dan upaya penyiapan serta peneguhannya

 

  1. C.    Pengertian dan ciri-ciri pembelajaran
    1. 1.      Pengertian pembelajaran

Pembelajaran merupakan suatu perbuatan belajar yang dilakukan oleh guru sebagai pengajar dan siswa sebagai pelajar.

Komponen belajar-mengajar:

  1. Siswa sebagai seorang yang betindak sebagai pencari,penerima dan penyimpan
  2. Guru sebagai seorang pengelola kegiatan belajar-mengajar
  3. Tujuan yakni pernyataan tentang perubahan tingkah laku yang diinginkan pada siswa
  4. Isi pelajaran yakni segala informasi berupa fakta
  5. Metode yakni cara teratur untuk memberikan kesempatan pada siswauntuk mendapat informasi
  6. Media yakni bahan pengajaran dengan peralatan
  7. Evaluasi yakni cara tertentu yang digunakan untuk menilai suatu proses dan hasilnya

 

  1. 2.      Ciri-ciri pembelajaran

Adapun ciri-ciri pembelajaran ada pada unsure-unsur dinamis proses belajar

  1. Motivasi belajar
  2. Bahan pelajaran
  3. Alat bantu belajar
  4. Suasana belajar
  5. Kondisi subyek yang belajar

 

  1. D.    Tujuan dan unsur-unsur dinamis pembelajaran
    1. 1.      Tujuan pembelajaran

Tujuan pembelajaran dalam dunia pendidikan yakni tujuan instruksional umum(TIU) dan tujuan intruksional khusus(TIK).Tujuan intruksional umum menggariskan hasil-hasil di bidang studi yang seharusnya dicapai oleh siswa,sedangkan tujuan instruksional khusus merupakan penjabaran yang lebih konkrit dari suatu TIU yang menyangkut satu pokok bahasan atau topic pelajaran tertentu.TIK merupakan pegangan baik bagi guru maupun siswa,karena memberikan arah pada proses belajar –mengajar.

Kriteria pembelajaran yang baik,adalah:

  1. Isinya harus jelas,mengandung pernyataan umum yang dicapai oleh anak didik
  2. Didalamnya harus dijelaskan tentang apa yang akan dicapai oleh anak didik
  3. Tujuan itu harus berhubungan/ada kaitanya dengan masalah yang diidentifikasi
  4. Harus ada penegasan bahwa tujuan hanya dapat dicapai melalui proses pembelajan,daripada sesuatu yang lain.
    1. 2.      Unsur dinamis pembelajaran kongruen dengan unsure dinamis dalam proses belajar siswa

Unsur dinamis pembelajaran kongruen dengan unsur dinamis dalam proses belajar siswa.Yang utama adapada guru itu sendiri untuk penyelenggaraan pengajaran/pembelajaran dan unsur dinamis siswa teradinya proses belajar.Guru utamanya motivasi menjadi pendorong untuk mau dan berusaha membelajarkan siswa,yaitu untuk dapatnya siswa meraih tujuan belajar.

  1. 3.      Unsur-unsur dinamis pembelajaran pada diri guru

Kemampuan dasar guru khusus S1 kependidikan:

  1. Menguasai bahan
    1. Menguasai bahan bidang studi dalam krikulum sekolah
    2. Menguasai bahan pengayaan
    3. Mengelola progam belajar-mengajar:
      1. Merumuskan tujuan instruksional
      2. Mengenaldan dapat menggunakan prosedur instruksional yang tepat
      3. Melaksanakan program belajar mengajar
      4. Mengenal kemampuan anak didik
      5. Merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial
    4. Mengelola kelas
      1. Mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran
      2. Menciptakan iklim belajar yang serasi
    5. Penggunaan media/sumber
      1. Mengenal,memilih dan menggunakan media
      2. Membuat alat bantu sederhana
      3. Menggunakan dan mengelola laboraturium
      4. Menggunakna perpustakaan menggunakan mcro-teaching
    6. Meguasai ladasan-landasan kependidikan
    7. Mengelola interaksi belajar-mengajar
    8. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran
    9. Mengenl fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah.
      1. Mengenal fungsi dan program layanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah.
      2. Menyelenggarakan program layanan bimbingan di sekolah.
    10. Mengenal dan menyelenggarakan Administrasi sekolah
      1. Mengenal penyelenggaraan Administrasi sekolah
      2. Menyelenggarakan Administrasi sekolah
    11. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran

Pengembangan motivasi belajar dapat di upayakan dengan jalan:

  1. Menghadapkan siswa pada hal-hal yang menantang
  2. Bagi siswa yang kurang atau lamban didorong untuk lebih aktif belajar
  3. Agar motivasi ekstrinsik di tingkatkan menjadi motivasi intrinsic

Unsur materi atau bahan belajar:

  1. Upayakan pemilihan materi sesuai karakteristik dan mengacu tujuan.
  2. Siswa diikutkan mempertanggungjawabkan materi yangtelah dipiliih.
  3. Siswa diusahakan untuk memanfaatkan sumber belajar.

Unsur suasana balajar:

  1. Usahakan suasana belajar lebih akrab dan gembira
  2. Siswa belajar bervariasi
  3. Kelas diatur secara fleksibel
  4. Kelas jangan terlalu banyak siswa
  5. Menggunakan multi metode

Unsur media belajar:

  1. Peningkatan penggunaan media belajar guna menggairahkan belajar siswa
  2. Mengikut sertakan siswa dalam penyiapan media,menggunakannya,siswa di latih membuat laporan,siswa di latih untuk mengadakan media.

Unsur kondisi siswa yang belajar,pengembanganya antara lain:

  1. Pembelajaran yang ideal dengan cara individual
  2. System klasikal yang sekarang berlaku diusahakan untuk dilaksanakan secara klasikal bervariasi.

 

  1. E.     Prinsip-prinsip belajar dan implikasinya
    1. 1.      Prinsip-prinsip belajar
      1. Perhatian dan motivasi pebelajar
      2. Keaktifan pebelajar
      3. Keterlibatan langsung pebelajar
      4. Pengulangan belajar
      5. Sifat merangsang dan menantang dari materi yang dipelajari
      6. Pemberian balikan dan penguatan kepada pelajar
      7. Perbedaan individual pebelajar yang satu dari yang lainnya
    2. 2.      Implikasi prinsip-prinsip belajar
      1. Implikasi pebelajar yang perlu meningkatkan usaha belajarnya

- pebelajar harus tahu betul apa hakekat belajar itu

- pebelajar harus mau mengubah sikap

b.  Implikasi bagi guru yang perlu meningkatkan upaya pembelajaran siswa

1.  guru harus tahu dan sadar betul apa hakekat belajar itu

  1. guru harus mau mengubah sikap

 

DAFTAR PUSTAKA

Conny Semiawan,et al.(1987). Pendekatan ketrampilan Proses.Jakarta:PT Gramedia.

Dadang Sulaeman,(1988).Teknologi/Metodologi Pengajaran.Jakarta:P2LPTK Debdikbud.

Davies,Ivor K,Penerjemah Dudarsono,S.dkk,(1986) .Pengelolaan Belajar.Jakarta:Rajawali.

Dahar,R.W.(1989).Teori-teori Belajar.Bandung:Erlangga.

Depdikbud,(1982),Modul Pendidikan Tenaga Kependidikan Berdasar Kompetensi,Jakarta:UT.

Dirjen,Pendidikan Tinggi.(1983).Modul Pengajaran Perorangan dan Kelompok kecil.Jakarta:Depdikbud.

Djiwandana,S.E.W,(1982). Psikologi Pendidikan,Jakarta;Dirjen Dikti Depdikbud.

Gagne & Berliner,(1984). Educational Psychology,Third Edition Boston:Houghton Miflin C.O.

Harsley,H.& Davies (1978). Contribution to an Educational Technology,London:Kogan Page.

Hilgard,G.H.& Bower E.R.(1985).Theories of Learning,5th Edition,New York :Prentice Hall.Inc.

Kingsle,H & Garry R.(1957). The Nature and Condition of Learning,New York:Prentice Hall.Inc.

Latuheru.Y.D.(1988). Media Pembelajaran dalam Proses Belajaran Mengajar Masa Kini,Jakarta:Dirjen Dikti P2LPTK.

DASAR-DASAR PENGEMBANGAN KURIKULUM

  1. A.    Pengertian dan landasan pengembangan kurikulum
    1. 1.      Pengertian kurikulum
      1. Kurikulum sebagai jembatan untuk meraih ijazah

Karena kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh siswa untuk memperoleh ijazah.

  1. Kurikulum sebagai mata dan materi pelajaran

Kurikulum terdiri dari mata pelajaran yang telah disusun berdasarkan pengalaman gnerasi terdahulu.

  1. Kurikulum sebagai rencana kegiatan belajar

Kurikulum adalah merupakan program pendidikakn yang disediakan oleh sekolah untuk siswa.Melalui program yang direncanakan itu siswa melakukan berbagai macam kegiatan belajar,sehingga mendorong perkembangan sesuai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.

  1. Kurikulum sebagai hasil belajar

Kurikulum adalah upaya menyeluruh yang direncanakan oleh setiap sekolah untuk membimbing siswa dalam pembelajaran kearah hasil pembelajaran yang ditentukan sebelumnya.

  1. Kurikulum sebagai pengalaman belajar

Kurikulum adalah segala pengalaman yang direncanakan dan disediakan oleh sekolah untuk membantu siswa dalam pencapian hasil belajar yang diinginkan menjadi kemampuan mereka yang terbaik.

  1. 2.      Landasan pengembangan kurikulum
    1. Landasan filosofis

Filsafat suatu Negara atau pandangan hidup suatu bangsa berisi ide-ide,cita-cita,system nilai yang harus dipertahankandemi kelangsungan hidup bangsa.Di Indonesia pandangan hidup bangsa adalah PANCASILA,dengan demikian penyelenggaraan pendidikan secara resmi diarahkan untuk membentuk manusia Indonesia yang ber-PANCASILA.

  1. Landasan Sosial-Budaya-Agama

Di Indenesia penyusunan dan pengembangan kurikulum sekolah-sekolah mulai dari TK sampai PT perlu mempertimbangkan landasan-landasan social-budaya-agama yang hidup dan berkembang di Indonesia.Dengan dmikian anak setelah tamat dari sekolah yang bersangkutan tidak akan canggung lagi menyesuaikan diri dengan lingkungan social-budaya-agamanya masing-masing.

  1. Landasan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Seni

Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hasil budi daya manusia sejak dahulu sampai sekarang,yang makin lama makin maju,maka dalam penyusunan pengembangan kurikulum perlu mempertimbangkan landsan ilmu pengetahuan dan teknologi

  1. Landsan kebutuhan manusia

Karena anak akan hidup dalam masyarakat,maka anakpun harus dipersiapkan untuk terjun di masyarakat denga dibekali kemampuan dan ketrampilan yang dibutuhkan masyarakat.

  1. Landasan perkembangan masyarakat

Didalam masyarakat terdapat bemacam-macam lembaga social yang masing-masing memiliki kekuatan untuk tumbuh dan berkembang.Ini semua memberikan pengaruuh dan perludipertimbangkan dalam rangka pembinaan dan pengembangan kurikulum.Sehingga sejalan dengan sifat dinamis dalam masyarakat yang selalu berkembang.

 

  1. B.     Komponen dan Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum
    1. 1.      Komponen-komponen kurikulum
  • Komponen tujuan:
  1. Tujuan institusional

Adalah tujuan yang ingin dicapai oleh sekolah secara keseluruhan meliputi aspek;pengetahuan,ketrampilan,sikap dan nilai

  1. Tujuan kurikuler

Adalah tujuan yang ingin dicapai oleh setiap bidang studi dalam kurikulum,mencangkup aspek;pengetahuan,ketrampilan,sikap,dan nilai

  1. Tujuan instruksional

Merupakan penjabaran dari tujuan kurikulerdan pencapianya di bebankan kepada tiap pokok bahasan.

  • Komponen isi:

Isi kurikulum adalah segala sesuatu yang diberikan kepada anak dalam kegiatan belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan,agar dengan demikian siswa memperoleh pengalaman belajar.

  • Komponen metode atau proses belajar mengajar

Adalah bagaimana cara siswa memperoleh pengalaman belajar untuk mencapai tujuan metode kurikulum berkenaan dengan proses pencapaian tujuan.

  1. 2.      Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
  • Prinsip relevansi

Yang dimaksud dalam dunia pendidikan adalah adanya kesesuaian antara hasil pendidikan dengan tuntutan kehidupan yangada di masyarakat.

  • Prinsip kontinuitas

Prinsip ini maksudnya adanya saling hubungan antara saling hubungan antara berbagai tingkat dan jenis program pendidikan,terutama mengenai bahan pelajaran

  • Prinsip fleksibilitas

Yang dimaksud fleksibilitas adanya semacam ruang gerak yang memberikan sedikit kebebasan dalam bertindak.

 

  1. C.    Model-model pengembangan kurikulum

1.)    Model pengembangan kurikulum menurut Rogers

  1. Model 1

Menggambarkan bahwa kegiatan pendidikan semata-mata terdiri dari kegiatan memberikan informasi dan ujian dan evaluasi.

  1. Model 2

Merupaknan penyempurnaan dari model 1 dengan menambahkan komponen metode dan organisasi bahan pelajaran.

  1. Model 3

Pengembangan kurikulum model 3 merupakan penyempurnaan dari model 2,dengan menambahkan unsure teknologi pendidikan kedalamnya.

  1. Model 4

Pengembangan kurikulum model 4 ini merupakan penyempurnaan dari model 3 dengan memasukkan unsur tujuan kedalamnya.

2.)    Model pengembangan kurikulum menurut Zais

  1. Model Administratif

Biasa disebut “garis dan staf”.Kegiatan pengembangan kurikulum ini dimulai dari pejabat pendidikan yang berwenang,yang membentuk panitia pengarah yang terdiri dari pengawas pendidikan,kepala sekolah dan staf pengajar inti.

  1. Model dari bawah

Inisiatif pengembangan kurikulum ini berasal dari bawah yaitu dari para pengajar yang merupakan pelaksana kurikulum sekolah.

  1. Model Beauchamp

Keutusan dalam model ini meliputi 5 langkah:

  1. Menentukan arena pengembangan kurikulum
  2. Memilih kemudian mengikut sertakan para pengembang kurikulum
  3. Mengorganisasi dan menentukan prosedur perencanaan kurikulum
  4. Menerapkan atau melaksanakan kurikulum secara sistematis
  5. Melakukan penilaian kurikulum yang telah dan sedang dilaksanakan
  6. Model terbalik Hilda-Taba

Pengembangan kurikulum ini melalui 5 tahap:

  1. Menyusun unit-unit kurikulumyang akan di ujicobakan
  2. Mengujicobakan
  3. Menganalisis dan merevisi hasil ujicoba
  4. Menyusun kerangka kerja teoritis
  5. Menyusun kurikulum secara menyeluruh dan mendesiminasikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ansyar,M.(1989).Dasar-Dasar Pengembangan kurikulum.Diperbanyak Oleh P2LPTK Depdikbud,Jakarta.

Ansyar,M.&Nurtain.(1991).Ppengembangan dan Inovasi Kurikulum.Diperbanyak oleh P2LPTK Depdikbud,Jakarta.

Nasution ,S.(1989).Kurikulum danPengajaran Jakarta:Bina aksara.

Nurgiyantoro,B.(1988).Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum sekolah(Sebuah Pngantar Teoritis dan Pelaksanaan)Yogyakarta:Balai Penerbit Fakultas as Ekonomi UGM.Hlm.1-18.

Wiryokusumo,I.&Mulyadi,U.(1988).Dasar-Dasar Pengambangan Kurikulum.Jakarta:Bina Aksara.Hlm.1-27.

Ibrahim,R dan Benny Karyadi.(1990).Pengembangan Inovasi dan Kurikulum.Jakarta:Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Soetopo,N. dan Sumanto,W.(1986).Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum.Jakarta:Bina Aksara.

MOTIVASI BELAJAR

  1. A.    Pengertian,Teori,dan Pentingnya Motivasi
    1. 1.      Pengertian motivasi

Bahasa Indonesia,motivasi diartikan sebagai:

  • Dorongan yang timbul pada diri seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.
  • Usaha-usaha yang dapat menyebabkan  seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan
  1. 2.      Teori-Teori Tentang Motivasi
    1. Teori kognitif

Dapat diartikan sebagai suatu proses yang mementingkan cara berfikir insight,reasoning,menggunkan logika induktif dan deduktif

  1. Teori Hedonisme

Teori ini mengatakan bahwa segala perbuatan manusia,entah disadari ataupun tidak disadari,entah itu timbul dari kekuaatan luar ataupun dari dalam,pada dasarnya mempunyai tujuan yang satu,yaitu mencari hal-hal yang menyenangkan dan menghindari hal-hal yang menyakitkan.

  1. Teori Insting

teori ini dikatakan bahwa seetiap orang telah membawa kekuatan biologis,kekuatan biologis inilah yang membuat orang bertindak menurut cara tertentu.

  1. Teori psikoanalitis

Merupkan pengembangan teoori insting.dalam teori ini diakui adanya kekuatan bawaan di dalam diri manusiadan kekuatan bawaan ini menyebabkan da mengarahkan tingkah laku manusia.Tingkah laku yang didorong oleh kedua insting dasar tadi sering kali tidak sesuai dengan norma-norma sopan-santun yang tedapat di masyarakat.

  1. Teori Keseimbangan

Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia terjadi karena adanya ketidakseimbangan di dalam diri manusia.Tingkah laku manusia timbul karena adanya suatu kebutuhan,dan tingkah laku manusia tesebut mengarah pada pencapaian tujuan yang dapat memenuhi kebutuhan.Kebutuhan karena adanya ketidakseimbangan di dalam diri inividu membuat individu yang bersangkutan melakukan sesuatu tindakan,dan tindakan itu mengarah pada pencapian tujuan.

Menurut Maslow,kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia:

  1. Kebutuhan biologis
  2. Kebutuhan akan rasa aman
  3. Kebutuhan akan rasa cinta kasih dan rasa memiliki
  4. Kebutuhan akan penghargaan
  5. Kebutuhan untuk tahu
  6. Kebutuhan keindahan
  7. Kebutuhan akan kebebasan bertindak
  8. Teori dorongan

Pada prinsipnya teori dorongan ini tidak jauh berbeda dengan teori keseimbangan,teori dorongan memberikan tekanan pada hal yang mendorong tejadinya tingkah laku.

  1. 3.      Pentingnya Motivasi dalam Upaya Belajar dan Pembelajaran

Motivasi merupakan pendorong bagi perbuatan seseorang.

  1. Peranan Motivasi pada Pengamatan

Meskipun pengamatan seseorang banyak bergantung pada factor fisiologis si pengamat,tetapi ada eksperimen yang membuktikan bahwa motivasi mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap pengamatan seseorang

  1. Peranan Motivasi pada Perhatian

Peranan motivasi pada perhatian seseorang tidak jauh berbeda dengan perananya pada pengamatan.Bila seseorang dikuasai motif tertentu mak perhatianya akan tertuju pada hal-hal yang sesuai motif tersebut.

  1. Peranan Motivasi pada Ingatan

Motivasi juga mempengaruhi ingatan seseorang.Dari percobaan Zeller dapat diambil kesimpulan bahwa motif gagal sangat mempengaruhi ingatan mereka.Jelas bahwa motivasi mempunyai peranan besar pada ingatan,menentukan hal-hal yang diingat dan dilupakan seseorang.

  1. Peranan Motivasi pada Proses Berpikir dan Fantasi

Fungsi berpikir juga amat dipengaruhi oleh motivasi. Peranan motivasi didalam berfikir terutama pada penggunaan informasi-informasi yang tersedia untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi.Kesimpulan pokok yang dapat di pegang yaitu motivasi merupakan salah satu factor penentu tingkah laku manusia.

  1. B.     Jenis dan Sifat Motivasi
    1. 1.      Jenis Motivasi

Berikut motif primer dan sekunder

  1. Motif primer atau motif biogenetis

merupakan motif-motif yang berasal dari kebutuhan-kebutuhan organisme demi kelajutan untuk mempertahankan kehiddupannya secara biologis.Contoh motif primer;motif lapar,motif bernafas,moyif seks.

  1. Motif sekunder atau sosiogenetis

Kalau motif biogenetis berasal dari kebutuhan organic demi kelanjutan hidup biologisnya dan bersifat asli.Dapat di bagi menjadi dua:

  • Motif darurat:

ü  Motif untuk melepaskan dirinya dari bahaya.

ü  Motif untuk melawan

ü  Motif untuk mengatasi rintangan

ü  Motif mengajar

  • Motif Objektif

ü  Motif eksplorasi

ü  Motif manipulasi

  1. 2.      Sifat Motivasi
    1. Motifasi intrinsik adalah tindakan yang digerakan oleh sesuatu sebab yang datang dari dalam diri individuatau motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidakk perlu di rangsangdari luar.
    2. Motifasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena ada perangsang dari luar.
    3. Disamping motif intrinsik dan motif ekstrinsik,masih ada sejenis pengembangan atau setidak-tidaknya sukar untuk di masukkan ke dalam salah satu motif tersebut.Hal ini nampak dan muncul dari pengaruh agama dan ajaran lain yang selalu mengajak pada arah kebaikan.
    4. Motifasi di sekolah

Ada beberapa bentuk da cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar:

  1. Member Angka

Angka dalam hal ini sebagai symbol dari nilai kegiatan belajarnya.

  1. Hadiah

Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi,namun itu tidak selalu demikian.Karena hadiah itu untuk suatu pekerjaan,mungkin tidak akan menarik bgi seseorang yang tidak senang dan tidak berbakat untuk pekerjaan tersebut.

  1. Saingan/Kompetisi

Digunakan untuk mendorong kegiatan belajar siswa.Persaingan baik secara perseorangan maupun kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

  1. Ego-Involvement

Pada anak perlu di tanamkan rasa tanggung jawab dan harga diri,hingga mendorong anak untuk bekerja semaksimal mungkin untuk merai nilai yang baik.

  1. Memberi Ulangan

Ulangan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan atau menumbuhkan motivasi

  1. Mengetahui Hasil

Hasil yang diperoleh siswa akan menambah semangat dan meningkatkan motivasi.terlebih jika hasil tersebut meningkat.Dengan grafik hasil belajar yang semakin meningkat maka harapan hasilnya selalu meningkat

  1. Pujian

Apabila siswa yang sukses dan berhasil menyelesaikan tugas dengan baik perlu diberikan pujian.Dengan pujian yang tepat memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekaligus membangkitkan harga diri.

  1. Hukuman

Hukuman sebagai hal yang negative namun kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.

  1. Hasrat untuk Belajar

Hasrat untuk belajar berarti ada unsur kesengajaan ada maksud untuk belajar.Hal ituu lebih baik bila dibandingkan segala sesuatu yang tanpa maksud.

  1. Minat

Motivasi muncul karena ada kebutuhan,begitujuga minat ,sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok.

  1. Tujuan yan g Diakui

Rumusan tujuan yang diakui oleh siswa akan merupakan alat motivasi yang sangat penting.

  1. C.    Motivsi Dalam Belajar
    1. 1.      Unsure-Unsur yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
      1. Cita-cita atau aspirasi siswa

Cita-cita yang telah tertanam pada diri siswa merupakan motivasi yang bermanfaat untuk meningkatkan hasil belajar.

  1. Kemampuan siswa

Siswa yang satu berbeda dengan yang lain.Pembawaan yang berhubungan dengan kecakapan seseorang dalam memecahkan persoalan disebut kemampuan.Maka pembawaan tersebut orang menyebutnya dengan kemampuan umum.

  1. Kondisi siswa

Kondisi seseorang dibedakan dalam kondisi phisik seperti:perhatian,minat,perasaan,ingatan dan semacamnya yang bepengaruh terhadap motivasi dalam keadaan normal.Kondisi psikis seperti:pendengaran,penglihatan,dan anggota badan yang lain besar manfaatnya untuk meningkatkan motivasi belajar.

  1. Kondisi Lingkungan Siswa

Yang dimaksud dengan fasilitas disini adalah segala sesuatu yang secara langsung berhubungan dengan proses belajar seperti:alat tulis menulis,buku bacaan,media belajar,dan macamnya.

  1. Unsur-Unsur Dinamis Belajar
  • Motivasi dan upaya memotivasi siswa yang belajar
  • Bahan belajar dan upaya penyedianya
  • Alat bantu belajar dan upaya penyediannya
  • Suasana belajar dan upaya pengembanganya
  • Kondisi subyek yang belajar dan upaya penyiapan serta peneguhannya
  1. Upaya Guru dalam membelajarkan siswa

Dalam proses belajar mengajar gurulah yang meerupakan factor penggerak.Dia harus bertindak sebagai manusia yang serba bisa baik marah,memuji,menghukum, atau memberi hadiah.

  1. 2.      Upaya Meningkatkan Motivasi
    1. Megnoptimalkan penerapan prinsip-prinsip belajar.

Masing-masing teori tidak sama kecocokannya untuk menanggulangi materi yang berbeda.

  1. Mengooptimalkan Unsur-Unsur Dinamis Belajar

Kemampuan guru akannampak ketika usahanya menumbuhkan motivasi penajian materi pelajaran,memilih,mengatur,menggunakan alat bantu,mengusahkan agar suasana belajar tetap kondusif.

  1. Mengoptimalkan Pemanfaatan Pengalaman

Pengajaran tidak akan berhasil apabila tidak memanfaatkan pengalaman yang sudah dimiliki.Kemampuan guru dalam mengelola pengalaman awal sangat membantu untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.

  1. Pengembangan cita-cita

Ceritera tentang tokoh-tokoh yang berhasil perlu dierjelas untuk memberikan harapan-harapan yang dapat diperoleh dengan usaha yang keras.Dengan demikian guru akan memberikan penguatan atau motivasi bagi siswa untuk belajar dan bekerja keras.

 

DAFTAR PUSTAKA

Prayitno,E.(1989).motivasi dalam Belajar,Jakarta:Depdikbud P2LPTK.

Sardiman,A.M.(1992).Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar,Jakarta:Rajawali.

 

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Dalam sejarah terdapat bahwa batas antara zaman sejarah dengan zaman pra-sejarah terletak pada ditemukannya peninggalan dalam bentuk tulisan. Dengan demikian Indonesia dikatakan memasuki zaman sejarah adalah dimana ditemukannya prasasti.

Latar belakang pergerakan nasional Indonesia tidak terlepas dari kejadian di Asia misalnya kemenangan Jepang terhadap Rusia (1905), meningkatnya pendidikan rakyat, terbitnya surat kabar sebagai media komunikasi serta paham baru Eropa-Amerika yang masuk ke Indonesia yang mempercepat tumbuh dan berkembangnya nasionalisme Indonesia.

PEMBAHASAN

 

SEJARAH INDONESIA

  1. A.          Pengertian Sejarah Indonesia

Dalam pengertian sejarah sudah dijelaskan bahwa batas antara zaman Pra-sejarah itu terletak pada ditemukannya peninggalan dalam bentuk tulisan. Dengan demikian Indonesia dikatakan memasuki zaman sejarah adalah ditemukannya prasasti. Dari prasasti pula diketahui bahwa kerajaan pertama di Indonesia adalah kerajaan Kutai.

  1. B.           Kerajaan – Kerajaan Tertua di Indonesia

Adapun kerajaan-kerajaan tertua di Indonesia dapat disebutkan antara lain :

  1. 1.      Kutai

Kerajaan ini merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Peninggalan sejarah kerajaan ini antara lain ditemukannya arca Budha Annarwati dari perunggu serta adanya tujuh buah prasasti yang dipahatkan di atas tiang batu yang disebut YUPA. Oleh karena itulah Negara ini dikenal dengan “Negeri Tujuh Buah Yupa”.

  1. 2.      Tarumanegara

Tarumanegara berkembang padas ekitar abad 5 M. prasasti yang ditemukan ada tujuh buah yang semuanya berhuruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Ketujuh prasasti tersebut adalah:

  1. Prasasti Ciaruteun
  2. Prasasti Kebun Kopi
  3. Prasasti Jambu (Pasir Kaliangkok)
  4. Prasasti Tugu
  5. Prasasti Lebak
  6. Prasasti Pasir awi
  7. Prasasti Muara Ciaten

Dalam prasasti Kebun Kopi dan prasasti Ciaruteun diterangkan adanya telapak kaki gajah dan telapak kaki yang diartikan sebagai kendaraan dan telapak kaki

Dewa Wisnu.

  1. 3.      Kerajaan Melayu

Mengenai kerajaan ini tidak banyak diketahui hanya saja berita dari China seorang yang bernama I-Tsing setelah belajar bahasa Sansekerta di Sriwijaya kemudian pergi ke Moloyu.

  1. 4.      Sriwijaya

Berdiri di Sumatra Selatan pada tahun 683 M. sriwijaya mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan Balaputradewa.

  1. 5.      Mataram

Sumber sejarah kerajaan Mataram adalah prasasti Canggal, prasasti Balitung, prasasti Kelurah, prasasti Karng Tengah. Pendiri kerajaan Mataram adalah Sanjaya (prasasti Canggal). Dalam prasasti Balitung dicantumkan raja-raja Mataram dari dinasti Sanjaya. Kerajaan Mataram pecah menjadi dua dinasti, yaitu dinasti Sanjaya (baragama Hindu) dan dinasti Syailendra (beragama Budha). Dinasti Syailendra berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan, sedang dinasti Sanjaya berkuasa di Jawa Tengah bagian utara. Perpecahan tersebut dapat disatukan lagi melalui ikatan perkawinan antara Rakai Pikatan (Sanjaya) dengan Pramodya Wardhani (Syailendra). Rakai Pikatan raja yang membangun Candi Prambanan ( candi Hindu), sedangkan Samaratungga membangun Candi Borobudur (candi Budha) yang diarsiteki oleh Gunadharma.

Empu Sendok adalah menantu raja Wawa dan yang memindahkan kerajaan Mataram ke Jawa Timur. Empu Sedok mendirikan dinasti baru yaitu dinasti Isyana. Peninggalan kerajaan Mataram lama banyak yang berupa candi baik dari dinasti Syailendra dan dinasti Sanjaya.

  1. Candi Hindu misalnya : Candi Pram,banan, Candi Dieng, Candi Gedhong Songo, Candi Pringapus, dan Candi Selogriyo.
  2. Candi Budha misalnya : Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Kalasan, Candi Sari, Candi Sewu, dan Candi Ngawen.
  1. 6.      Kerajaan Kediri

Dalam prasasti Mantyasih tercatat raja terakhir Mataram adalah Balitung yang selanjutnya digantikan Raja Daksa dan akhirnya Tulodhong. Setelah pemerintahan Tulodhong inilah Jawa Timur muncul dinasti baru yaitu Isyana dengan pendiri Empu Sendok.

  1. 7.      Kerajaan-kerajaan di Sunda dan Bali

Kerajaan di Sunda setelah masa Tarumanegara tidak banyak diketahui, hanya pada tahun 1527 pelabuhan Sunda Kelapa jatuh ke tangan Islam, Banten.

  1. 8.      Kerajaan Singasari

Munculnya kerajaan Singasari diawali dengan sikap raja terakhir Kediri yaitu Kertajaya yang menuntut penghormatan yang berlebih dari kaum pendeta Brahmana. Dikarenakan kaum Brahmana tidak setuju, maka minta bantuan ke Tumapel. Hal ini dimanfaatkan oleh Ken Arok denhan membantu para Brahmana sehingga terjadilah pemberontakan yang dikenal dengan Perang Ganter (1222), dan sejak itu muncullah kerajaan Singasari dengan Ken Arok sebagai raja yang bergelar Sri Ranggah Rajasa Amurwabumi.

  1. 9.      Kerajaan Majapahit

Majapahit terletak disekitar sungai Brantas dekat Mojokerto. Didirikan oleh Raden Wijaya, menantu Kertanegara dari kerajaan Singasari. Putra Lembu Taal tersebut melarikan diri ke Madura setelah menghadapi pasukan Kediri yang dipimpin Jayakatwang dibantu ardaraja.

Setelah perang usai, untuk beberapa lamanya mendirikan sebuah desa bersama pengikutnya di Kudadu. Sebuah kawasan hutan tarik pemberian Jayakatwang. Hutan tersebut sebagai ganjaran atas permintaan ampun Raden Wijaya yang dianggap musuhnya. Padahal dari balik desa tersebut Raden Wijaya berjuang dikelak kemudian berusaha merebut kembali tahta Singasari yang dikuasai oleh Kediri. Maka lahirlah Majapahit setelah semuanya dipertaruhkan oleh Raden Wijaya yang mendapat kawan satu tujuan tentara Mongolia.

  1. C.          Kedatangan Islam

1)      Islam sampai di Indonesia karena :

  1. Arti pentingnya selat Malaka
  2. Munculnya pedagang-pedagang Muslim (Gujarat)
  3. Mundurnya kerajaan Sriwijaya dan Majapahit

2)      Proses Islamisasi dapat berjalan dengan mudah karena :

  1. Syarat penerimaan Islam sangat mudah, hanya dengan mengucap kalimat syahadat
  2. Upacara dalam Islam sangat sederhana
  3. Islam tidak mengenal kasta
  4. Penyebaran Islam dengan jalan damai
  5. Jatuhnya kekuasaan Hindu dan Budha (Sriwijaya dan Majapahit)

3)      Permulaan penyebaran Islam

Berita tentang Islam di Indonesia telah diterima sejak seorang pedagang Venesia (Italia) yang bernama Marcopolo singgah di kota Perlak (1292) dan menerangkan bahwa sebagian besar penduduknya telah beragama Islam. Kemudian diperoleh bukti-bukti sejarah bahwa kerajaan Islam pertama adalah Samodra Pasai pada abad ke-13.

Bukti-bukti antara lain :

  1. Bentuk nisan Sultan Samodra Pasai seperti bentuk nisan di Gujarat.
  2. Di Lereng terdapat makam Islam pertama di Jawa, yaitu makam Fatimah binti Maimun (1082).
  3. Di Gresik terdapat makam Islam Malik Ibrahim yang meninggal tahun 1297.
  4. Dapat diambil kesimpulan bahwa penyebaran Islam di Indonesia melalui jalur dagang Sumatera dan pantai utara Jawa antara abad 13 sampai 15.

4)      Cara penyabaran agama Islam ada dua jalan :

  1. Melalui jalur perdagangan
  2. Melalui jalur dakwah

Selain tersebut di atas Islam juga menimbulkan suatu corak kebudayaan yang berbau seni Islam, hal itu nampak dalam :

  1. Bentuk dan letak Masjid
  1. Timbulnya seni ukir Islam
  2. Kesusastraan Islam
  3. Upacara Grebeg Maulud
  1. D.          Perlawanan terhadap Kolonialisme

Dalam membicarakan perlawanan terhadap kolonialisme, maka terlebih dahulu kita bicarakan kedatangan bangsa barat. Kedatangan bangsa barat pada mulanya dilandasi oleh Imperialisme Kuno dengan dan semboyannya : Gold, Glory, dan Gospel.

Dengan semangat tersebut, maka dengan dimotori dua bangsa penjajah yaitu :

  1. Spanyol melalui jalur Barat
  2. Portugis melalui jalur Timur

Dengan kedatangan bangsa Eropa tersebut, yang pada mulanya dengan tujuan dagang akan tetapi semakin lama mereka juga turut campur dalam masalah-masalah politik dan tindakan tidak disenangi raja-raja, maka timbullah perlawanan. Perlawanan terhadap kolonialisme dapat disebutkan antara lain :

  1. Reaksi Malaka dan aceh terhadap Portugis

setelah perjanjian dagang Portugis ditolak oleh raja Malaka Sultan Mahmud Syah, maka Portugis menyerang Malaka di bawah pimpinan d’Albuquerque tahun 1511.

  1. Maluku

Maluku jatuh ketangan Portugis setelah sebelumnya timbul perlawanan di bawah Sultan Baabulah serta Sultan Khairun.

  1. Tahun 1577 Ternate berhasil mengusir Portugis yang selanjutnya pindah ke Tidore
  2. Tahun 1605 Belanda datang merampas Amboina
  3. Tahun 1625-1636 perlawanan rakyat Hitu terhadap Kompeni
  4. Tahun 1650 Ambon dan ternate melawan Kompeni
  5. Tahun 1675 perlawanan rakyat Jailolo
  1. perlawanan Banten dan Mataram

Kedatangan Belanda di Banten (1596) yang pada mulanya untuk berdagang di bawah pimpinan de Houtman, ternyata menimbulkan rasa tidak senang, maka timbul perlawanan di bawah Sultan Ageng Tirtayasa. Karena Belanda terdesak maka dijalankanlah politiknya dengan membujuk Sultan Haji melawan ayahnya.

Mataram di bawah pimpinan Sultan Agung sangat antipati terhadap Belanda, pada tahun 1628-1629 mengadakan serangan ke Batavia, keduanya gagal. Sepeninggal Sultan Agung perlawanan Mataram diteruskan oleh Trunojoyo dan Surapati.

  1. Perlawanan Pangeran Diponegoro
    1. Sebab-sebab

1)            Sebab umum

  • Mataram kehilangan wilayah di daerah pesisir
  • Mataram kehilangan pelayaran
  • Makin kecilnya pendapatan kerajaan
  • Raja tergantung pada Belanda
  • Campur tangan Belanda dalam pemerintahan
  • Masuknya kebudayaan Barat ke istana
  • Rakyat yang sangat menderita

2)            Sebab khusus

Belanda akan membuat jalan kereta api yang melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro.

  1. Tokoh-tokoh

Para pembantu Pangeran Diponegoro antara lain :

  • Pangeran Mangkubumi
  • Kyai Mojo
  • Sentot Alibasyah Prawirodirjo

Sedangkan tokoh Belanda yang nantinya menawarkan perundingan adalah Jenderal de Kock.

  1. Akhir perlawanan

Setelah perang yang berlangsung cukup lama (1825-1830), Belanda menggunakan politik Benteng Stelsel dan akibatnya banyak pembantu Pangeran Diponegoro yang tertangkap. Akhirnya Belanda menawarkan perundingan untuk menjebak Pangeran Diponegoro tanggal 28 Maret 1830 bertempat di rumah Residen Kedu Magelang. Akhirnya Pangeran Diponegoro tertangkap dan dibawa ke Menado dan pada tahun 1834 di pindah ke Ujung Pandang sampai meninggal 8 Januari 1855.

  1. E.           Tanam Paksa (Culture Stelsel)
    1. Sebab-sebab

Setelah Belanda mengalami beberapa perlawanan tentu saja memerlukan biaya yang banyak, terutama adalah perang Padri dan perang Diponegoro. Disamping itu, di negeri Belanda kas untuk tanah jajahan juga kosong. Oleh karena itulah Gubernur Jenderal mengusulkan diadakan tanam paksa.

  1. Praktik Tanam Paksa

Pada hakekatnya ternyata semua aturan yang ada pada tanam paksa diselewengkan, di antaranya :

  1. Tanah lebih dari 1/5
  2. Tanah yang dipilih yang subur
  3. Waktu menanam lebih lama dari pada menanam padi
  4. Rakyat dipindah ke tempat lain dan mengerjakan rodi

Dengan demikian, maka tanam paksa ini sangat mengakibatkan penderitaan di kalangan rakyat, namun mengakibatkan keuntungan yang besar bagi Belanda.

  1. Akibat Tanam Paksa
    1. Selama tanam paksa hutang Belanda lunas
    2. Masih ada uang kontan 900.000 gulden
    3. NHM yang tadinya hampir mati karena bersaing dengan Inggris, setelah tanam paksa berkembang menjadi besar

Bagi Indonesi secara tidak langsung dapat pula diambil keuntungan, yaitu :

  1. Mengenal tanaman baru
  2. Mengenal cara pemeliharaan
  3. Turut menggunakan irigasi

NASIONALISME INDONESIA

  1. A.          Paham Nasionalisme

Paham Nasionalisme adalah perasaan cinta terhadap bangsa dan tanah air, yang di timbulkan oleh perasaan tradisi yang berkaitan dengan sejarah, agama, bahasa, kebudayaan, pemerintahan, tempat tinggal dan keinginan untuk mempertahankan dan memperkembangkan tradidinya sebagai milik bersama dari anggota bangsa itu sebagai satu kesatuan bangsa.

  1. B.           Pergerakan Nasional Indonesia
    1. a.      Sebab-sebab timbulnya Nasionalisme

1)            Kenangan kejayaan masa lalu menggugah untuk bangkit melawan penjajah

2)            Penderitaan dan kesengsaraan rakyat akibat penjajahan

3)            Lahirnya golongan terpelajar yamg mempelopori gerakan anti penjajahan

4)            Pengaruh kemenangan Jepang atas Rusia

  1. Pergerakan Nasionalisme Indonesia dibagi menjadi tiga tahap, yaitu :
    1. Masa awal pergerakan Nasional

a)            Budi Utomo

Lahir pada tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta, dipimpin oleh dr. Sutomo (lulusan STOVIA). Sebagai pendorongnya adalah dr. wahidin Sudirohusodo. Organisasi ini bersifat social, budaya dan pendidikan.

Tujuan : mencapai kemajuan dan meningkatklan derajat bangsa.

b)            Sarekat Dagang Islam

Organisasi ini berdiri atas anjuran RM. Tirto Adisuryo, pada tahun 1911 H. samanhudi mendirikan SDI di Solo. SDI bercorak social, ekonomi, dan agama. Pada tanggal 10 September 1912, SDI mengadakan Kongres di Surabaya. SDI dirubah menjadi Sarekat Islam (SI) dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto.

Tujuan Sarekat Islam :

  • Mengembangkan jiwa dagang
  • Membantu anggota yang kesulitan berusaha
  • Memajukan pendidikan bagi bangsa Indonesia
  • Memperbaiki pendapat yang keliru mengenai agama Islam
  • Hidup menurut perintah agama

c)            Indishe Partij (IP)

Pelopor utamanya adalah Douwes Dekker, sedangkan pendirinya nantinya dikenal dengan Tiga Serangkai, yaitu Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan Dr. Cipto Mangunkusuma. Dalam sidangnya pada bulan Desember 1912 telah nampak bahwa partai inilah yang pertama kali secara terus terang bergerak dalam bidang politik.

  1. Masa Radikal

Masa radikal adalah kurun waktu dimana organisasi tersebut tidak mau bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda. Organisasi pada masa radikal antara lain adalah :

a)            PI (Perhimpunan Indonesia)

Organisasi ini berdiri pada tahun 1908 di Negara Belanda, dibentuk oleh pemuda Indonesia yang sedang kuliah di Belanda. Semula diberi nama Indische Vereeniging. Tujuannya mengurusi kepentingan orang Indonesia yang ada di negeri Belanda.

Sejak perang dunia 1 semangat nasional makin berkobar. Tahun 1922 namanya diubah menjadi Indonesische Vereeneging. Tujuannya pun berubah selain social juga politik. Tahun 1924 namanya diubah menjadi Perhimpunan Indonesia. Dengan tujuannya mencapai kemerdekaan penuh bagi Indonesia.

b)            Partai Komunis Indonesia (PKI)

Berdiri 1914 di Semarang. Berpaham komunis dan dinamakan Indische Sociaal Democratische Vereeneging (ISDV). Pendirinya orang Belanda yaitu Sneevlit, orang Indonesia yaitu Semaun. Tahun 1920 namanya diubah menjadi Perserikatan Komunis Hindia atau PKI. Sebagai ketua Semaun. Untuk mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya, PKI menusup ke dalam partai lain.

  1. Masa Moderat

Pada masa ini perjuangan dilakukan secara kooperatif, antara lain munculnya Partindo dan Parindra. Pada saat ini muncul pula fraksi baru dalam Volksraad yang di ketuai oleh M. Husni Thamrin yang menuntut jaminan kemerdekaan nasional, selainitu juga menuntut adanya pelarangan sekolah swasta. Untuk nanti muncul Petisi Sutarjo yang menuntut perbaikan Indonesia serta wakil Indonesia di Volksraad. Tetapi tuntutan itu ditolak oleh pemerintah Belanda sehingga melahirkan GAPI yang tidak mendapat tanggapan Belanda sampai Jepang datang di Indonesia.

Selain itu masih ada organisasi di bidang pendidikan, seperti:

  1. Pendidikan wanita (perjuangan Kartini dilanjutkan oleh Dewi Sartika dengan mendirikan Sekolah Istri (1904) yang kemudian berubah menjadi Keutamaan Istri).
  2. Taman Siswa 3 Juli 1922
  3. Sekolah Serikat Islam

PENUTUP

 

KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak sekali berdiri kerajaan-kerajaan di Indonesia pada zaman sejarah dengan ditemukannya prasasti-prasasti dan bangunan sebagai bukti masa kejayaan suatu kerajaan. Sebagai bukti, pada jaman kerajaan Mataram terdapat peninggalan candi Borobudur, candi Mendutu, candi Pawon yang sekarang ini menjadi kekayaan bangsa Indonesia.

Dan dengan adanya pergerakan Nasionalisme di Indonesia menggambarkan bahwa rakyat Indonesia memiliki rasa cinta terhadap bangsa dan tanah air yang ditimbulkan oleh perasaan tradisi yang berkaitan dengan sejarah, agama, bahasa, kebudayaan, pemerintahan, tempat tinggal, dan keinginan untuk mempertahankan dan memperkembangkan tradisinya sebagai milik bersama dari anggota bangsa itu sebagai satu kesatuan.

DAFTAR PUSTAKA

 

TIM MGMP SEJARAH. 2007. Pengetahuan Sosial Sejarah. Media Persada: Karnganyar.

Junartono, Arief, dkk. 1999. Panduan Belajar Sejarah dan Sosiologi. Primagama: Yogyakarta.

Pendekatan kontekstual

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)

A. Penerapan Pendekatan Kontekstual di Kelas

CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah penerapannya. Secara garis besar, langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan CTL sebagai berikut ini.

1.       Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri   pengetahuan dan keterampilan barunya

2.       Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik

3.       kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya

4.       Ciptakan masyarakat belajar

5.       Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran

6.       Lakukan refleksi di akhir pertemuan

7.        Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara

Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual

Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecenderungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut.

a.       Proses belajar

  • Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri
  • Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru
  • Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan
  • Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisak, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
  • Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
  • Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide
  • Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang.

b.       Transfer Belajar

  • Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain
  • Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit)
  • Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu

c.       Siswa sebagai Pembelajar

  • Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru
  • Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting
  • Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui.
  • Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri.

d.       Pentingnya  lingkungan Belajar

  • Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan.
  • Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya
  • Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar
  • Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting

 

DAFTAR  PUSTAKA

Depdiknas, Pendekatan kontekstual, Depdiknas, Jakarta, 2002.

C. Notasi Sigma dan Induksi Matematika

Notasi sigma yang dilambangkan dengan” ∑ “ adalah sebuah huruf Yunani yang artinya penjumlahan. Notasi ini digunakan untuk meringkas penulisan penjumlahan bentuk panjang dari jumlah suku-suku yang merupakan variabel berindeks atau suku-suku suatu deret.

Jika diketahui suatu barisan tak berhingga a1, a2, a3,. . . an dengan n > 1, maka jumlah dari n suku pertama barisan tersebut dinyatakan dengan .

 = a1, a2, a3,. . . an

Jumlah suatu deret aritmetika dan geometri  (Sn) dapat ditulis dalam notasi sigma, yaitu:

Sn =  = U1, U2, U3 ,. . . Un

Untuk deret aritmetika :

Sn =  = a + (a + b) + (a + 2b) + . . . + (a + (n – 1)b)

Untuk deret geometri :

Sn =  = a + ar + ar2 + . . . + arn-1

 

Pada contoh nomor 2, kalian menyatakan bahwa jumlah  n bilangan ganjil pertama adalah n2. Adapun pada contoh nomor 3, kalian menyatakan bahwa jumlah n bilangan kuadrat pertama adalah n ( n+ 1) (2n + 1). Apakah rumus yang kalian tuliskan tersebut benar?

Untuk membuktikannya, kalian dapat menggunakan induksi matematika yang telah kalian pelajari di kelas X. Langkah-langkah pembukuan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Buktikan rumus tersebut berlaku untuk n = 1
  2. Misalkan rumus tersebut berlaku untuk n = k
  3. Buktikanlah bahwa rumus tersebut berlaku juga untuk n = k + 1

Dengan induksi matematika ini, kalian dapat membuktikan contoh nomor 2 dan contoh nomor 3.

Akan dibuktikan 1 + 3 + 5 + 7 + . . . + (2n – 1) = n2

Misalkan, P(n) = 2n – 1

Untuk n = 1, P(1) = 2 . 1 – 1 = 1

Jadi, untuk n = 1, rumus berlaku sebab ruas kiri dan ruas kanan persamaan menghasilkan bilangan yang sama, yaitu 1.

Misalkan rumus berlaku untuk n = k, maka 1 + 3 + 5 + 7 + . . . + (2k – 1) = k2

Selidiki, apakah rumus berlaku untuk n = k + 1 ?

Untuk n = k + 1, pada ruas kiri didapat,

1 + 3 + 5 + 7 + . . . + (2k – 1) + (2( k + 1) – 1) = k2 + 2k + 1 = (k + 1)2

 

k2

Pada ruas kanan persamaan, didapat ( k + 1)2.

Jadi, untuk n = k + 1, ruas kiri dan ruas kanan persamaan menghasilkan bilangan yang sama, yaitu ( k + 1)2.

Dengan demikian, 1 + 3 + 5 + 7 + . . . + (2n – 1) = n2 berlaku untuk n = k dan untuk

n = k + 1, sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa 1 + 3 + 5 + 7 + . . . + (2n – 1) = n2 berlaku untuk semua n bilangan asli.

Sekarang akan dibuktikan  1 + 4 + 9 + 16 + . . .  + n2 =  n (n + 1) (2n + 1).

Misalkan P(n) = n2.

Untuk n = 1, pada ruas kiri persamaan P(1) = 12 = 1.

Pada ruas kanan didapat  1 (1 + 1) (2.1 + 1) =  . 2. 3 = 1

Jadi, untuk n = 1 rumus berlaku, sebab ruas kiri dan ruas persamaan.

Misalkan rumus tersebut berlaku untuk n = k, maka

1 + 4 + 9 + 16 + . . . + k2 =  k (k + 1) (2k + 1).

Selidiki, apakah rumus berlaku untuk n = k + 1 ?

Untuk n = k + 1, didapat ruas kiri persamaan,

1 + 4 + 9 + 16 + . . . + k2 + (k + 1)2             =  k (k + 1) (2k + 1) + (k + 1)2

 

             k (k + 1) (2k + 1)                  = ( k + 1)

= (k + 1) (2k2 + 7k + 6)

= (k + 1) (k + 2) (2k + 3)

Pada ruas kanan persamaan, juga didapat  (k + 1) (k + 2) (2k + 3).

Jadi, untuk n = k + 1, ruas kiri dan ruas kanan persamaan menghasilkan bilangan yang sama, yaitu (k + 1) (k + 2) (2k + 3).

Dengan demikian, 1 + 4 + 9 + 16 + . . . + n2 =  n (n + 1) (2n + 1) berlaku untuk n = k dan untuk n = k + 1 sehingga kalian dapat membuat kesimpulan bahwa 1 + 4 + 9 + 16 + . . . + n2 =  n (n + 1) (2n + 1) dimana n adalah bilangan asli.

Berikut ini adalah sifat-sifat notasi sigma.

Jika m dan n adalah bilangan asli, dengan m ≤ n dan c  R, maka berlaku :

Hello world!

Relasi dan Fungsi

 

Dalam kehidupan nyata, senantiasa ada hubungan (relasi) antara dua hal atau unsur-unsur  dalam  suatu  kelompok.  Misalkan,  hubungan  antara  suatu  urusan  dengan nomor telepon, antara pegai dengan gajinya, dan lain-lain. Pada bab ini, akan dibahas tentang  hubungan  antara  dua  himpunan  tak  kosong  dengan  suatu  aturan  pengkaitan tertentu. Pembahasan tersebut meliputi definisi relasi dan fungsi, operasi beserta sifat- sifatnya.

 

Pada bab sebelumnya, telah dibahas tentang Cartesian product, yaitu berupa pasangan terurut yang menyatakan hubungan dari dua himpunan. Semua pasangan terurut yang mungkin merupakan anggota dari himpunan hasil Cartesian product dua buah himpunan. Sebagian dari anggota himpunan tersebut mempunyai hubungan yang khusus (tertentu) antara dua unsur pada pasangan urut tersebut, dengan aturan tertentu. Aturan yang  menghubungkan  antara  dua  himpunan  dinamakan  relasi  biner. Relasi  antara himpunan A dan himpunan B merupakan himpunan yang berisi pasangan terurut yang mengikuti aturan tertentu. Dengan demikian relasi biner R antara himpunan A dan B merupakan himpunan bagian dari cartesian product A atau  R ⊆ (A B).

Notasi dari suatu relasi biner adalah a R b atau (a, b) ∈ R. Ini berarti bahwa a dihubungankan dengan b oleh R.  Untuk menyataan bahwa suatu unsur dalam cartesian product bukan merupakan unsur relasi adalah a R b atau  (a, b) ∉ R, yang artinya a tidak dihubungkan  oleh  oleh  relasi R. Himpunan A disebut daerah asal (domain) dari R, dan himpunan B disebut daerah hasil (range) dari R.

Contoh :

Misalkan A = {2, 3, 4} dan  B = {2, 4, 8, 9, 15}.

Jika kita definisikan relasi R dari A ke B dengan aturan : (a, b) ∈ jika a faktor prima dari

Jawab :

Seperti yang telah dipelajari sebelumnya, cartesian product A B adalah :

A B = {(2, 2), (2, 4), (2, 8), (2, 9), (2, 15), (3, 2), (3, 4), (3, 8), (3, 9), (3, 15), (4, 2), (4, 4), (4, 8), (4, 9), (4, 15)}

Dengan menggunakan definisi relasi diatas, relasi R dari A ke B yang mengikuti aturan   tersebut adalah : = {(2, 2), (2, 4), (2, 8), (3, 9), (3, 15) }

Relasi dapat pula terjadi hanya pada sebuah himpunan, yaitu relasi pada A.. Relasi pada himpunan A merupakan himpunan bagian dari cartesian product A A

Contoh  :

Misalkan R adalah relasi pada A = {2, 3, 4, 8, 9} yang didefinisikan oleh :

(x, y) ∈  jika dan hanya jika x habis dibagi oleh  y.

Jawab :

Relasi R pada  yang mengikuti aturan tersebut adalah :

R = {(2, 2), (4, 4), (4, 2), (8, 8), (8, 2), (8, 4), (3, 3), (9, 9), (9, 3)}

Relasi Biner

  • Relasi biner R antara himpunan A dan B adalah himpunan bagian dari A ´ B.
  • Notasi: R Í (A ´ B).
  • a R b adalah notasi untuk (a, b) Î R, yang artinya a dihubungankan dengan b oleh R
  • a R b adalah notasi untuk (a, b) Ï R, yang artinya a tidak dihubungkan oleh b oleh relasi R.
  • Himpunan A disebut daerah asal (domain) dari R, dan himpunan B disebut daerah hasil (range) dari R.

Contoh:

Misalkan P = {2, 3, 4} dan Q = {2, 4, 8, 9, 15}. Jika kita definisikan relasi R dari P ke Q dengan (p, q) Î R  jika p habis membagi q, maka kita peroleh

R  = {(2, 2), (2, 4), (4, 4), (2, 8), (4, 8), (3, 9), (3, 15) }

  • Relasi pada sebuah himpunan adalah relasi yang khusus
  • Relasi pada himpunan A adalah relasi dari A ´ A.
  • Relasi pada himpunan A adalah himpunan bagian dari A ´ A.

Representasi Relasi

1. Representasi Relasi dengan Diagram Panah

2. Representasi Relasi dengan Tabel

  • Kolom pertama tabel menyatakan daerah asal, sedangkan kolom kedua menyatakan daerah hasil.

Tabel 1                                Tabel 2         Tabel 3

A B   P Q   A A
Amir IF251 2 2 2 2
Amir IF323 2 4 2 4
Budi IF221 4 4 2 8
Budi IF251 2 8 3 3
Cecep IF323 4 8 3 3
3 9
3 15

 

3. Representasi Relasi dengan Matriks

  • Misalkan R adalah relasi dari A = {a1, a2, …, am} dan B = {b1, b2, …, bn}.
  • Relasi R dapat disajikan dengan matriks M = [mij],

b1       b2      ¼     bn

M =

yang dalam hal ini

4.  Representasi Relasi dengan Graf Berarah

  • Relasi pada sebuah himpunan dapat direpresentasikan secara grafis dengan graf berarah (directed graph atau digraph)
  • Graf berarah tidak didefinisikan untuk merepresentasikan relasi dari suatu himpunan ke himpunan lain.
  • Tiap elemen himpunan dinyatakan dengan sebuah titik (disebut juga simpul atau vertex), dan tiap pasangan terurut dinyatakan dengan busur (arc)
  • Jika (a, b) Î R, maka sebuah busur dibuat dari simpul a ke simpul b. Simpul a disebut simpul asal (initial vertex) dan simpul b disebut simpul tujuan (terminal vertex).
  • Pasangan terurut (a, a) dinyatakan dengan busur dari simpul a ke simpul a sendiri. Busur semacam itu disebut gelang atau kalang (loop).

Contoh :Misalkan R = {(a, a), (a, b), (b, a), (b, c), (b, d), (c, a), (c, d), (d, b)} adalah relasi pada himpunan {a, b, c, d}.

R direpresentasikan dengan graf berarah sbb:

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.